Hambatan Harusnya Menjadi Tantangan

Setiap perubahan adalah peralihan dari kondisi yang lama menjadi kondisi yang baru, baik itu baru dalam struktur, baru dalam misi dan visi, baru dalam aksi dan tindakan, dan tentunya baru juga dalam personel pelaksana. Namun ini tentunya merupakan suatu yang alamiah terjadi dan setiap makhluk hidup yang bernyawa akan selalu menemui peroses perubahan ini.

Kalau boleh kita analogikan suatu perubahan yang terjadi,  tak ubahnya kupu-kupu, yang dimulai dari ulat, kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu sungguhan yang berwarna indah dan enak dipandang mata. Dalam siklus perubahan tersebut tentunya banyak hal yang mengikuti perubahan tersebut, baik itu positif maupun negatif, karena banyak hal yang mempengaruhi proses tersebut.

Begitu juga sebuah daerah yang notabenenya harus mengalami perubahan juga (metamorfosis), untuk mendapatkan bentuk yang indah, seperti layaknya kupu-kupu tadi. namun keindahan dalam konteks ini berupa kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat daerah tersebut. Disamping itu pula dapat meningkatkan rasa Percaya Diri yang tinggi, rasa nasionalisme yang luas, dan pada akhirnya dapat memanfaatkan perubahan daerah kearah yang lebih baik.

Namun sangat tidak menutup kemungkinan dengan perubahan ini disertai pengaruh-pengaruh unsur-unsur yang berkepentingan baik politik praktis dan kepetingan pribadi lainnya, hal ini merupakan hal yang wajar, karena manusia itu adalah dwi tunggal yang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Namun dalam upaya mencapai keberhasilan menempuh perubahan ini tentunya kecendrungan untuk pribadi harus lebih kecil kadarnya dibanding kepetingan umum.

Pro dan kontra antar masyarakat pun merupakan hal yang sangat biasa, karena semua perbedaan itu merupakan dinamika berorganisasi, asal dalam koridor yang benar dan tidak bertindak anarkis apabila pendapat dan pandangannya belum bisa diterima forum, disinilah kedewasaan kita diuji, apakah benar-benar tangguh dan berniat membangun atau hanya “bicara saja”. Sebaiknya kalau tidak mengerti duduk persoalan, hendaknya kita diam saja, dan mengikuti perkembangan yang sedang terjadi, dan baru kita memulai angkat bicara bila masalahnya memang sudah bisa kita tangkap dan dimusyawarahkan.

Kita bisa memulai putik-putik pembangunan daerah dengan membuat forum-forum kecil, namun harus memiliki kerja yang jelas dan nyata, daripada kita memiliki forum yang terlihat “wah”  namun semuanya tidak pernah terlihat arahnya akan dibawa kemana. Kita harus menghargai setiap peluang-peluang yang ditawarkan, mendukung semua pergerakan, dan tentunya pergerakan itu bukan untuk mencelakakan daerah sendiri tentunya. Kita seharusnya menghapus semua sisi gelap seseorang hanya dengan melihat satu sisi latar belakang yang kelam dari orang yang dekat dengan dia, hilangkanlah perasaan iri dan dengki yang bersemayam dalam diri kita, dan merubahnya menjadi jiwa besar dan membuka diri atas semua masukan yang harus dilakukan dengan arah yang lebih baik. Hilangkanlah sifat keras kepala yang sudah pernah menempel dalam diri orang kita yang sudah terkenal dengan sebuah jargon merendahkan “palak taguk kening sentul” , sekarang tinggal kita bersatu dan mendukung siapa saja yang bisa membawa daerah kita secara umum kearah yang lebih baik.

Bukan zamannya lagi untuk “saling ijakkah palak”, sekarang saatnya kita untuk saling mendukung menuju perubahan yang seharusnya kita dapatkan. Dan jangan pula kita menjadi orang yang “over acting” atas semua kesempatan yang telah diberikan kepada kita untuk  mencari popularitas yang tidak berguna, dan hanya akan membawa pada kehancuran tujuan awal kita membangun daerah kita supaya sejajar dengan daerah lainnya.

Bukan  hal yang mustahil untuk kita bisa merubah kondisi daerah kita menjadi daerah yang terhormat dan memiliki ciri khas sebagai warga Semende, namun “fi’il karut jeme kite yang dikmak nginak jeme lemak dikit” itu yang harus dibuang jauh-jauh. Karena kita tahu bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, tidak ada yang perfect (no body perfect), namun kita harus menimbang apakah kadar kebaikan yang diberikannya itu lebih besar dari keburukan yang akan kita terima secara umum oleh masyarakat kita? itu yang harus dicamkan dan  harus diubah oleh masyarakat kita. Biarkan mereka maju, biarkan mereka berbuat sesuatu yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan, biarkan mereka membuat suatu trobosan yang baru bagi masyarakat kita. Karena sesuatu yang baru belum tentu buruk bagi kita,dan hal yang lama tidak akan selamanya baik bagi kita.

S yukur alhamdullila, sudah dua (2) operator seluler (Telkomsel dan Exelindo)  telah masuk ke daerah kita, mereka telah memberikan kesempatan kepada kita warga Semende untuk menikmati kemudahan dalam berkomunikasi. Kita tidak perlu tahu siapa yang telah berjasa besar dalam hal melobi kedua operator Seluler tersebut sehingga telah berani menancapkan Tower mereka di Daerah kita. Coba bila hal ini kita pikir-pikir, tidak mungkin kedua operator tersebut mendirikan Tower itu tanpa adanya relasi yang memperkenalkannya ke daerah kita. Dan tentunya itulah salah satu hasil dari respon masyarakat yang aplikatif atas pembangunan di Semende, sehingga saat ini Semende telah menikmati kemudahan dalam berkomunkasi ke dunia luar dengan sangat mudah dan murah.

Buanglah “cerudi’an” dalam benak kita ini, buanglah ribut-ribut atas sebuah rencana pembangunan yang akan digalakkan di daerah kita, dukunglah mereka, kalu tidak bisa berbuat apa-apa setidaknya kita diam, jangan sampai istilah “tupak lum masak kincit lah benarai” masih menjangkiti pemikiran-pemikiran kita. Harusnya  kita mencontoh keberhasilan daerah lain, untuk bisa menjadi contoh daerah yang akan datang.  Jangan pernah mentutp diri atas keberhasilan daerah lain dalam melangkah mencapai kemakmuran daerahnya dan membuang perasaan bahwa kita memiliki jati diri yang harus dipertahankan, padahal jati diri tersebut tidak sesuai lagi dengan jaman saat ini yang serba komplek. Apalagi hal itu berupa hal keduniawian, budaya, dan sesuatu hal lainnya yang dibuat manusia yang bisa diperkaya dan disesuaikan dengan kondisi yang ada, namun tidak bertentangan dengan hukum sang Khalik, Allah SWT.

Kita semua punya agama, kita memiliki panutan, dan kita juga memiliki pribadi yang harus kita penuhi kebutuhannya, jadi wajar saja bila ada seseorang memiliki ide dan cara yang cemerlang dalam pembangunan daerah memiliki sarana dan prasarana yang mapan. Apakah hal ini salah….??? Apakah hal ini akan diberi cap bahwa si A telah melakukan hal-hal yang merugikan daerahnya sendiri…???, padahal apa yang telah diberikan oleh Si A ini telah banyak untuk pembangunan daerah kita, sedangkan kita yang hanya menjadi penonton dan tidak bisa berbuat apa-apa berteriak keras dan kencang atas semua yang telah diperoleh tersebut, sehingga bermacam cara yang tidak baik dilakukan untuk menghentikan setiap gerak kemajuan yang akan dilakukan. Perasaan inilah yang kadang telah membenamkan diri kita sendiri ke dalam lumpur yang amat dalam, padahal selama ini kita sudah tenggelam dalam lumpur tersebut untuk waktu yang lama.

Mari kita hargai pandangan, pendapat, dan pergerakan yang berbeda dengan kita. Jangan sampai latar belakang dan ketidaktahuan kita tentang tujuan final suatu pergerakan menjadikan kita “buta mata” dan melakukan hal-hal yang menghambat pembangunan dimasa yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: