Cerpen “Lahirnya Pecundang Sejati”

Minggu, 13 Juli 1997

Bangun....Disuatu pagi nan sejuk, ayam jago mang Kandar tak kuasa menahan dingin yang menyegarkan pagi itu. Seperti biasa untuk membunuh rasa dingin dengan semangat dan merdunya dia berkokok bersahutan menjawab lengkingan ayam beruge(1) Mustopa yang baru dijerat dari bukit Kayu Labu sebulan yang lalu, kali ini suara ayam itu tak membuat aku menjadi berang, seperti hari-hari kemarin. Padahal hari sebelumnya kokok ayam ini selalu saja membuat aku kesal, gara-gara kehadiran ayam Mustopa, membuat aku terbangun lebih awal, padahal biasanya bangun pukul 6.15 semenjak kedatangan ayam hutan itu aku bangun jam 5.00 setiap pagi. Maklum kandang ayam itu tidak berjauhan dengan kamarku yang bertetanggaan dengan rumah  mang Kandar, sehingga kalau pagi tiba, suara kokoknya terdengar jelas sekali.mouse2Bulir-bulir embun tampak begitu malas beranjak dari ujung-ujung daun cengkih yang kemerah-merahan di depan rumah. Seperti juga aku, embun itu masih betah menikmati segarnya udara pagi desaku yang masih perawan, juga suara burung kecil berwarna hijau, selalu saja nangkring di pohon nangka disebelah pohon cengkih dengan suara cekikikannya yang selalu kunanti setiap mau berangkat sekolah. Sepertinya ada yang kurang bila aku berangkat ke sekolah namun belum mendongak ke atas memperhatikan kawanan burung kecil bersenda gurau yang selalu membuat  aku tersenyum dan berbangga diri, aku yang menanam pohon nangka ini lho begitu fikirku setiap hari… dan aku senang mereka datang dan membuat sangkar dipohon tanamanku.  Padahal Bapakku yang menanam pohon itu waktu aku masih duduk di kelas satu SD, aku hanya membawa bibitnya  saja, tapi kata Bapak aku yang menanamnya jadi aku yang harus menjaganya, makanya sampai hari ini pohon nangka ini masih tetap kujaga, karena begitulah pesan Bapakku.

tired5Kulihat kakak-kakakku masih bergumul di dalam selimut, enggan rasanya bangun apalagi dengan cuaca dingin seperti ini, bahkan mereka sama seperti aku juga, sering menggerutu apabila mendengar kokok ayam mang Kandar di pagi hari, bukan malah bersyukur tetapi malah kesal mendengar kokok ayam itu. Sehingga ada diantara mereka yang nekat pindah ke  kamar belakang gara-gara kokok ayam itu. Melihat tingkah kami seperti itu kedua orang tuaku malah tersenyum saja dan kadang-kadang meledek kami “kenapa tidak dari dulu Mustopa dapat ayam seperti ini, jadi tidak susah membangunkan raja penidur seperti kalian ini”

flying_bird1Pagi itu aku masih ingin bergumul dengan selimut merahku yang sudah kucel, yang tebal dengan tambalan corak kain yang tidak sama dengan warna aslinya, ada motif batik, motif bunga-bungaan, ada motif kotak-kotak, bahkan ada pula tulisan yang sudah tidak jelas apa arti tulisan sebenarnya “Dirgahay” mungkin ini bekas spanduk 17-an, dan ada satu lagi tulisan “n kary”  dan mungkin ini juga kain spanduk partai no 2 di jaman Soeharto.  Pokoknya selimut itu adalah selimut rebutan, selain hangat, selimut itu adalah selimut kebanggaan yang penuh histori, karena merupakan pemberian Bapakku waktu melamar Ibuku, ya… seperti penduduk Semende pada umumnya sebelum melamar tentunya ada syarat-syarat buat pengantin pria sebagai  hantar-hantaran kepada mempelai wanita, seperti Saput Abang(2), Kinjagh(3),Barang Pecah Belah, Bantal, dll, bahkan kalau keluarga itu mampu ada juga yang membawa kerbau sebagai barang hantarannya. Tetapi karena keluarga Bapakku bukan orang yang berada, jadi cukuplah dengan Saput Abang dan alat-alat rumah tangga ala kadarnya dibawa untuk calon mempelai wanita. Karena cinta dan kasih sayang adalah yang utama dalam membina keluarga begitu kata Bapakku, diwaktu dia menceritakan sejarah Saput Abang kepada kami, sambil dia memalingkan muka ke arah ibu, dan tampaknya Ibuku tersipu malu dibuatnya dan langsung membalas “Au… memang Bak Dengah tu paling ibu sayang, memang sih…., agak hitam dan sedikit kere (dengan gaya Ibuku yang dibuat-buat biar Bapakku kelimpungan), tapi PeDe-nya itu yang membuat Umak jadi Falling In Love dengan Bak Dengah” mendengar jawaban ibuku, Bapakku jadi mesem-mesem saja, apalagi dikata-kata “Agak Hitam dan Kere”  ye Ibu… kok masih disebut kata-kata pamungkas itu, aku kan malu… tapi biar bagaimanapun Ibu suka kan…..!!! Bapakku tak mau kalah dengan Ibu. Begitulah mereka berdua kalau sudah bercerita tentang masa muda mereka, selalu saja membuat kami tertawa. Mungkin karena alasan ibuku “cinta mati; begitu kata Mulan Jameela” makanya dia menerima lamaran Bapak pada waktu itu, padahal ada beberapa saingan Bapak yang lebih kaya, lebih keren, dan lebih berpendidikan melamar ibu. Namun ibuku tetap saja menolak lamaran mereka dan memilih Bapakku yang saat ini.  Apalagi bapakku memang sering bercerita tentang kerasnya hidup di usia sekolah jaman Jepang membuat beliau menjadi seorang “jagoan” yang selalu ada dan siap membasmi setiap apapun halangan dan rintangan yang datang di keluarga kami, sama seperti di film Megaloman, atau Ultraman yang sempat kami tonton. Salah satu saksi cinta mereka adalah Saput Abang itu masih tetap menemani mereka sampai saat ini.

Uh….hangat dan enak sekali rasanya pagi ini (padahal bibirku sudah segigil menahan dingin, tapi kata Bapakku kita harus berfikiran positif dan salah satunya memandang kondisi apapun dengan jiwa dan fikiran terbaik biar kita berjiwa besar dalam memandang suatu masalah). Apalagi ini kan hari minggu, biasanya kalau hari minggu pasti ada sajian kue-kue terhidang di meja, kalau tidak kue apam, kecepul goreng, kumbo, gunjing buatan umak Jum, atau Lontong buatan Yani, atau bahkan martabak buatan Adji Massa’iD.   Aku mau ngambil jatah dulu, mumpung Ma’Ul belum bangun, kalau mereka sudah bangun, pasti jatah aku berkurang. Begitulah aku menyemangati hariku pagi ini untuk mengusir rasa malas dan dinginnya udara pagi. Rupanya trik berfikir positif nasehat Bapakku berhasil mengusir kemalasan bangun pagi dihari minggu ini.  Padahal sebenarnya yang menjadi alasan bangun pagi karena ingin membelikan kado di kalangan minggu, untuk seseorang special yang selalu kusebut namanya sebelum aku berangkat sekolah, sebelum bermain layangan, sebelum tidur, dan terkadang dalam doaku. Sebagai anak kecil beranjak besar, aku belum tahu bahwa berfikir positif, apa dan bagaimana pengaruhnya, karena yang penting bagiku aku bisa makan kenyang dan bisa jajan pempek elastis seperti permen karet karena kebanyakan sagunya saking murah harganya, bisa menang ngadu layangan di senggrahan(4), dan membelikan kado untuk seseorang yang aku kagumi di hari ulang tahunnya, itulah yang aku inginkan saat itu.

babyteddAku sangat bahagia kalau dia berterima kasih sambil tersenyum “terima kasih Mang, kadonya… Mang Baek Deh… dan aku akan bilang….akh….biasa aja kok.. (tapi dalam hati, oh…Novilisha….kau begitu mempesonaku), dan aku akan terbuai dalam alunan lamunan, seakan terbang diantara bunga-bunga yang bermekaran, seperti Ikal bertemu  A Ling ”pemilik kuku indah” di Laskar Pelangi. Begitulah indahnya cinta, indahnya mempesona setiap jiwa-jiwa yang penuh cinta, menembus relung-relung penuh kedamaian, penuh misteri tak tertandingi, merubah setiap detik-detik begitu berarti, mereguk setiap tetes keindahan cinta agar bersemayam dan terbenam dalam dada dan semangat menjalani ujian yang terburuk sekalipun. Oh…cinta, kau benamkan aku dalam luapan cintamu, menggelepar, dan akhirnya aku tak sadar bahwa engkau begitu indahnya, indah menyegarkan, jernih dan suci membekas dalam jiwa makhluk kecil yang bernama ”Mang”. Aku tersenyum dan hampir lupa aku belum beranjak disamping Lamat(5) yang sudah penuh dengan ”peta-peta” kreasi alam bawah sadar dikala telelap dalam mimpi-mimpi indahku.

Wangi pagi masih begitu terasa, kulihat lipatan kertas berisi uang di bawah baju di almari masih utuh seperti sedia kala, itu artinya senyum Novi akan mengembang besok pagi menerima kado istimewaku begitu gumamku, sambil melipat  saput abang, dengan semangat seorang pangeran mau bertemu bidadari, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, dingin sama sekali tak terasa. Namun di jalan ke kamar mandi Ibuku sudah menggelar hasil belanjaannya, dia terkejut melihatku bangun pagi sekali. Lho… kok … Mang, sudah Bangun…? mau kemana…? aku langsung jawab sekenanya, aku kan mau ngambil jatah Kecepulku hari ini. gak kemana-mana kok bu, Cuma mau midang(6) ke kalangan saja. Lalu aku berlalu menuju kamar mandi dan seterusnya mandi sambil sekali-sekali menggigil. Di luar sayup-sayup terdengar Ibuku bilang kalau hari minggu ini dia masak nasi, jadi tidak beli Kecepul Goreng kesukaanku. Tapi karena fikiranku sudah ”terprogram” senyuman Novi, semua ucapan ibu aku ia kan saja dan tidak minta dibelikan kecepul goreng atau makanan kecil lainnya seperti hari minggu biasanya, padahal aku paling tidak suka sarapan pagi dengan nasi di hari minggu.

Badanku segar sekarang, lihat badanku (aku berakting seperti Ade Ray di depanCermin), aku ini kekar ternyata. Aku ini ganteng…he..he..he tapi sih emang agak hitam sama seperti Bapakku. Tapi gak apa-apa, walaupun Bapakku hitam tapi ibuku  mau padanya, padahal ibuku cantik, putih. Itu artinya kulit hitam tidak jadi masalah, Aku tersenyum, dan merasa PeDe. Selanjutnya perhatianku beralih pada hidungku, Ya…ya,,, hidungku benar-benar pesek, benar kata Ma’ul, aku mulai patah semangat melihat hidungku, aku termenung. resah1Kupencet-pencet hidungku biar agak mancung dan enak dilihat di cermin, tapi tetap saja tidak mau mancung. Aku terduduk di tepi ranjang kayu, dan terus memperhatikan bentuk mukaku, dan terutama hidungku yang pesek. Aku kesal melihat mukaku sendiri, dan mulai bayang-bayang Novi menghantuiku, apa iya Novi nanti mau dengan aku, dengan orang yang berhidung pesek seperti ini. Akh… masak sih Novi mau dengan aku… akh Novi itu kan cantik, tidak mau lah dengan orang jelek kayak aku ini. Udah hitam, hidung pesek, akh…. tidakkkkkkkk………… nuraniku tidak menerima keadaanku seperti ini, dan fikiran jahatku mulai bermunculan, orang yang disukai Novi itu harus ganteng sama seperti Aaron Kwok kayak photo di sampul buku kakakku Ma’ul, jadi tidak mungkin kamu bisa jadian dengan Novi. Urungkanlah saja niatmu membelikan kado buatnya, daripada kamu dicuekin dan hadiahmu di banting di depan kelas apa kamu mau…malu dong? Aku mulai geram, dan menyesal menjadi orang jelek dan berhidung pesek…. dalam kegalauan itu aku mulai labil, nasihat Bapakku tentang berfikir positif tidak lagi kuterapkan. Aku sudah termakan fikiran negatifku tentang hidungku yang pesek, yang jelek, yang tak pantas untuk sekadar memberikan kado untuk seseorang yang dikagumi. Namun tanpa kusadari tiba-tiba Jefri sudah dihadapanku

Jefri adalah teman setiaku, dia pintar selalu jadi juara umum. Orangnya ganteng dan  yang pasti hidungnya mancung tidak seperti hidungku. Cewek-cewek semuanya tergila-gila dengan Jefri, dan satu-satunya yang tidak tergila-gila dengan Jefri adalah Novi, makanya aku ingin sekali Novi menjadi milikku, karena dia tidak suka dengan jefri tapi malah ”kata orang” dia senang dengan Mang, jadi Jefri bukanlah sainganku, begitu fikiranku tentang Novi dan Jefri. Namun sayang dibalik kelebihannya itu, dia orangnya pesimis, terlalu memandang sesuatu dari logika dan sebab akibat, termasuk dalam cinta. Dia baik, dan tulus. Tapi ya itu tadi, kalau masalah cinta dan segala sesuatu yang belum terjadi dia tidak mau ambil resiko. Tapi aku senang berteman dengannya.

ide00000Kedatangan Jefri membuatku lupa dengan ”hidungku” kedatangannya memang sudah direncanakan,  kami berdua ingin memberikan kado istimewa untuk Novi. Karena ini sesuatu yang istimewa makanya harus dilakukan dengan musyawarah, begitu kata Jefri. Wah, setuju sekali, ini sesuai sekali dengan pelajaran P4, musyawarah untuk mencapai mufaaaakattt (dengan gaya mengolok-olok ide bagusnya itu), begitu gurauku pada Jefri, pantesan saja kau jadi juara 1 penataran P4 dan aku juara 9nya …he..he..he..he. Akhirnya tanpa serta merta kami menuju kalangan(7) mencari sesosok hadiah untuk seseorang yang memang benar-benar spesial. Hidungku terlupakan untuk sementara.

Di kalangan kami mulai explore, dari pedagang satu kepedagang lainnya, dari ujung depan masjid pulau panggung sampai masjid muara dua kami datangi, pertama-tama lihat dulu semua barang yang dijual, begitu kata Jefri, dan saya bilang Siippp…. kedua kamu lihat barangnya…. kalau sudah pas barangnya kita tanya harganya… Ok Boss… begitu kataku. Setelah tahu harganya baru kita cari pedagang lain, siapa tau harganya lebih murah, kalau lebih murah sisa uangnya kan bisa kita belikan tali gelasan untuk main layangan di Senggrahan…gitu Mang… Wah pintar kali orang ini… begitu aku jawab idenya si Jefri dengan logat Medan.

Pertama kami melihat-lihat novel karya Fredy, S lalu si Jefri bilang…. Wah masak orang kayak Novi kau kasih novel yang begitu, malu lah. Dia kan bacaannya tentang kemajuan wanita islam di abad 21, kau dengar sendiri kan apa dia bilang pas kita diskusi minggu lalu, interestnya tentang ilmu pengetahuan, makanya cari yang seperti itulah.
Tapi kan cari bacaan yang begitu susah Jef…ini kan dusun bukan Palembang yang banyak toko buku (kilahku). Cari yang lain lah…akhirnya aku mengalah, Ok Bos tanpa bisa melawan

bebek000Kalau dikasih boneka itu, gimana BOSSSS…(sambil menunjuk ke arah pedagang boneka) nah itu dia. Mantapppppp…ayo tanyalah harganya. Tidak berapa lama….
O… gitu…makasih Bang, nanti kami keliling-keliling dulu ya, kalau jadi nanti kami kesini lagi Bang.
Kenapa Jef (tanyaku sambil berbisik)
Jef: mahal…!!! kita cari yang lain aja
Mang: Oooo.. gitu, OKEH BOZZZZZZZZ
Kalo yang itu gimana dong….anting-anting plus gelang kali aja murah Jef….
Gak usahlah… masak kecil gitu…. gak enak lah kasih hadiah kecil2 kayak gitu…
Gak profesional… kita ini harus Macho…. hadiah harus besar-besar, biar surprise….

Kalo kasih jilbab itu aj gimana Jef….itu kan bagus, Pink dan Putih, sesuai kulitnya Novi…. wah pasti pas banget tuh Jef… yuk kita tanya….
Jef: Ayo…
Pas ditanya harganya oleh Jefri…
Mang: Gimana Jef (sambil berbisik)
Jef: mahal…..
Mang: Ooo… Gitu… (aku nurut aja kayak kerbau dicocok hidungnya)

Mang: Nah… itu dia… sini biar aku yang nanya…. sendiri
(tanya aja sendiri kayak gak percaya sama orang aja sih…gerutu Jef kesal dengan Mang)
Tidak berapa lama

Mang: ya.. ya.. barang-barangnya mahal semua nih.. gimana Jef. Uang aku kan Cuma Rp.15.000,-  nih tabunganku 3 bulan lho….Cari yang murah-murah aja deh…

Ooo.. jadi uang untuk beli kado Cuma Rp. 15.000,- Mang….!!!! Suara Jef agak keras terdengar… Gak cukuplah Mang…..!!!! anak Dewan dia itu mang…. anak Wong Gerot(8).. masak kau kasih kado Rp. 15.000,-  ha…hahaha…hahaa….haha ada-ada saja kau Mang…

termenunTapi Jef…. sementara ini aku maunya dia senang aja, dan dia tersenyum saja padaku sudah cukup Jef…. bukannya aku langsung nikahi dia… mumpung dia ulang tahun.

Mang…Mang…. Kok gak mikir apa… yang mau kau kasih itu anak siapa…?? dia itu cantik, pintar, anak anggota dewan, alim,  Levelnya nya itu minimal Rp.50.000,- itu hanya untuk kado…. kalo 15.000 mana cukuplah….
Untuk menghasilkan tumbukan yang besar, momentumnya harus kuatlah…. nah… kau,

gimana harus kuat kalau tumbukan ke ”hatinya” hanya dengan lima belas ribu.
Ingat prinsip momentum gak…. di fisika??? Akh… kau…
Payahhhhh….
Susah-susah ke kalangan, bawa uang Cuma limabelas ribu. Mang…. Mang….

Aku termakan omongan Jef tentang Novilisha, itu membuat aku semakin galau…
(dalam kegalauan itu ntah mengapa teringat kembali pada ”hidungku”, fikiranku kembali menerawang; aku memang tidak pantas… tidak wajar memberi kado lima belas ribu untuk orang cantik yang aku sayangi, dan anak dewan, orang alim…. nasib-nasib, kenapa Bapakku tidak menjadi orang kaya….kenapa aku berhidung pesek.. Akh… dunia memang tidak adil…. aku benci kehidupan ini…..) padahal, apa hubungannya hidung pesek dengan kado, akh…. masa kecil yang aneh…

Dalam penerawangan itu Jefri menyadarkanku…. Tapi tenang Mang…. kau kan pintar bikin puisi, biar murah kau bikinkan saja puisi untuknya, dan nanti kau suruh Jhoni  memberikan puisimu dengannya… gimana…. OK.

Berfikir sejenak…. Ok Jef… kau memang ber-otak cemerlang…. Mang tersenyum kembali semangat. Sekarang aku pulang dulu Mang, sampai ketemu besok di sekolah.  Aku mau main layangan nanti, nah… bagaimana,,,, jadi kita beli gelasan dan ngadu layangan sore ini…? Ok… boz… nanti aku ke rumahmu, kita main layangan. Tenang aj nieh,,,, ada 15 ribu modal kita.

Aku kembali ke rumah tanpa sebuah kado apapun, namun tampaknya begitu bahagia walau tanpa ada kado buat sang pujaan ”Novilisha” karena dibenakku sudah ada puisi-puisi indah yang akan dipersembahkan untuk ”Novilisha”, dan tentunya dia juga tidak perlu membeli kertas surat lagi, karena aku sempat menyimpan bekas-bekas surat kakakku Ma’ul.  Memang cerdas Jefri… Cewek itu mudah didapat walau hanya dengan modal sebuah puisi… Aku tersenyum bangga… he..hehehe….

Sore itu Aku main layangan dengan Jefri, dan modalnya 15.000 ludes tak bersisa, tampak kemenangan di pihakku, aku dan Jefri mampu mengalahkan puluhan layang-layang musuh di sanggrahan, sukses besar kali ini. Tatkala malam tiba aku mulai membuka-buka  simpanan kertas surat sisa Ma’ul di meja belajarnya. Tapi seperti biasa kalau hari hujan walau cuma rintik-rintik, di Semende listrik mati. Makanya kami sering juluki listrik di Semende PLTU alias Pembangkit Listrik Takut Ujan, ya…. julukan ini sedikit memberi hiburan atas kekesalan gara-gara listrik di desa kami tercinta. Namun dengan niat yang kuat Mang mulai menulis puisi bercahayakan lampu culuk(9) untuk Novilisha. Lembaran pertama, puisinya tidak jadi kertasnya disobek, karena menurut dia terlalu cengeng untuk seorang cowok, lembaran kedua, ketiga, dan keempat belum juga berhasil maksimal karena tulisannya tidak konstan dan selalu berubah dari baris kesatu sampai baris kedua tulisannya tidak sama, dan masih banyak alasan lainnya, akhirnya jadi juga sebuah surat berhasil dibuat, dan aku berharap ini akan membuat Novi tersenyum bangga mendengarnya.

berfikir-sejenakimissu00Kulipat kertas itu, dan kumasukkan kedalam amplop langsung dilem…. tanpa memeriksa tulisannya kembali. Sayup-sayup mataku dengan bangga membayangkan Novilisha, tersenyum padaku, “Terima Kasih Mang…..” dan dia akan fly seperti para pangeran yang diperkenalkan dengan seorang putri dari khayangan… dan akhirnya tertidur dengan bangga.
Pagi hari, aku sudah bangun jam 5.00 dan langsung menuju rumah Jhoni. Aku bilang tolong dikasihkan dengan Novilisha, aku belum berani memberikannya sendiri, begitu kataku. Setelah memberikan surat itu aku mandi sambil tersenyum bangga dan membayangkan ”wajah ranum Novilisha tersenyum kepadaku” tanpa sadar sabun mandi jatuh dan masuk dalam lubang Closed…. Ups…. aku kelabakan, padahal sabun mandi baru. Kalau tidak diambil nanti akan menyumbat lubang WC, jadi dengan berat hati karena merasa jijik kuambil dan kubungkus kembali untuk dibuang dibelakang rumah. Dalam hati aku membatin, gimana nih, sabun mandi baru, wah… rugi lah ibuku harus mengganti yang baru, padahal ini baru dibeli kalangan kemarin, tapi dengan berat hati dia masukan lagi sabun itu dalam bungkusnya dan akan dibuangnya langsung biar orang lain tidak memakainya lagi. Tapi dalam fikiranku merasa rugi bukan kepalang, kalau dibelikan pempek, ini sudah dapat berapa pempek dari harga sabun ini. Akh… nasib-nasib, kulihat sekali lagi sabun mandi itu, berat sekali aku membuangnya, tapi aku tidak tega membiarkan orang lain menggunakan sabun mandi yang sudah kecemplung dalam closed. Akhirnya kubuang juga sabun itu, dalam hati aku minta maaf ”bu… maafkan Mang ya…nanti aku ganti dengan sabun mandi baru kalau aku sudah bisa bikin  layangan”

Di sekolah sebagaian murid SMPN 1 Semendo sudah berdatangan, tak terkecuali aku yang sudah ”berbunga-bunga” menanti ucapan terima kasih Novilisha atas puisi terindah yang pernah kuciptakan, tak tahan lagi aku melihat lesung pipit terukir indah di wajah ”sang putri raja” yang tertutup jilbab ”imut” sesuai syariat, namun sebagai ABG kecil debar-debar jantungku berdegup kencang, dan kadang-kadang debarannya memuncak seperti Bom Israel mengguncang jalur Gaza membunuh nurani dan logika, dan akal sehat ”Mang” kecil. Membuncah tak tentu arah, membuat panas dingin,  miris, dan akhirnya…. tak bisa diucapkan lagi indahnya first love Mang dengan putri anggota dewan.

Merpati… putih….
Begitu jinak, dan …; akh….

Denting lonceng sekolah membuyarkan lamunan, aku masuk ke kelas dan mataku mulai bergulir ke seantero ruangan kelas, tak terlihat Jhoni di bangkunya, sedangkan Novilisha tampak tenang menunggu pelajaran dimulai. Aku mulai gelisah, perasaan mendayu-dayu berubah gunda gulana, kacau, panic, panas dingin keharuan berubah menjadi panas dingin ketakutan yang amat sangat, siswa lainnya mulai sibuk masing-masing. Jefri sudah tebar pesona dengan semua cewek di kelas dengan gaya intelektualnya membuka buku meski belum disuruh oleh guru. Namun, sekonyong-konyong Munandar maju ke depan kelas. Di tangannya ada bungkusan kecil berbungkus Koran. Dia sainganku mendapatkan hati Novilisha, namun kuanggap sebagai angin lalu saja, karena menurutku dia tidak lebih baik dari aku, aku lebih pintar dari dia aku juara 2 setelah Jefri, sedangkan dia juara 34 dari 35 siswa, aku sedikit lebih putih dari dia, dan pergaulannya juga tidak lebih baik dari aku.  Pokoknya kecil kemungkinan ia mendapatkan Novilisha. Lagian kata orang Novilisha lebih tertarik denganku. Jadi ya… santai aja menghadapi saingan sekaliber Munandar (begitulah aku menilai temanku ini). Anehnya semenjak awal dia sudah tahu kalau aku suka dengan Novi, tak pernah kulihat dia mundur selangkahpun untuk mendekati Novi, bahkan aku tahu Novi sudah beberapa kali menolaknya, masih saja dia ngotot mendekati Novi, memang sih cara Novi sangat halus dengannya, makanya dia tidak bosan-bosannya berusaha merebut hati “sang putri raja”.  Suatu hari Jefri pernah bilang; Kalau saja aku seperti Munandar, mana mungkin aku mau mendekati Novi, lagian dia  sudah tahu Novi tidak suka dengan dia, ngapain juga ngejar-ngejar sampai begitu nekatnya, kita kan punya harga diri Bo’ , tambahnya bersemangat, dan aku mengiya kan pernyataanya itu.
Tiba-tiba Munandar angkat bicara di depan kelas.
”Teman-teman….. Mohon Maaf mengganggu waktu kalian, tetapi kali ini aku ingin memberitahukan sesuatu pada kalian, bahwa hari ini adalah hari paling istimewa, hari paling bersejarah, hari paling beruntung dari hari-hari sebelumnya, karena apa…..
(semua siswa terdiam)
Karena……… hari ini…….. adalah…. hari ulang tahunnya teman kitaaaaaaaaaaa
NoviiiiiiiiiiiiiiiiiLiiiiiiiiiiiiiiiiisha……
Kulihat muka Novilisha memerah namanya disebut Munandar. Sebelum dia berkata-kata, Munandar melanjutkan pidatonya….

semangatUntuk itu aku ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk nya, dan aku berharap, dia mau menerima kado istimewaku ini…. tanpa basa basi, dia beranjak dari depan kelas dan menuju bangku sambil berlutut, sama seperti film-film Romawi dulu laksana perwira yang siap menerima titah para raja, dan tangannya memberikan bungkusan koran itu kepada Novilisha yang sedang kelimpungan. Dan siswa-siswa lainnya tersentak dan berteriak… Wuuuuuu……………..Wuuuuuuuuuuuuuuuuuu, langsung teriak Koor….. buka-buka, buka sekarang juga….sekaranggg   jugaaaaaaa (intonasi lagu selamat ulang tahun)

Terlihat sekali wajah ayu Novi memerah mendapat perlakuan itu, dengan agak gemetar dan tanpa berkata-kata diambilnya bungkusan itu dan akhirnya berkata ”Terima kasih Mun…..Engkau begitu baik padaku, terlihat senyumannya menyungging disela pinggir jilbabnya yang putih itu. Dengan gaya tangan ditarik kearah perutnya Munandar membalas ucapan Novi ”dengan senang hati putri raja” kepalanya ditundukan sedikit, dan terlihatlah giginya diantara gelap kulitnya.

Mendengar teriakan siswa-siswa lain yang menginginkan kado itu dibuka saat itu juga, akhirnya Novi dengan hati-hati membuka bungkusan yang dibungkus dengan koran bekas itu,  sebelum bungkusan itu terbuka seluruhnya, Novi melihat sekilas ke arahku yang sedang terpaku, pucat, seperti mayat hidup. Entah apa maksud dari pandangan itu, yang pasti hanya Novi yang tahu maksudnya. Melihat situasi seperti itu, aku tak bisa apa-apa, hatiku luluh, patah, hancur sakit tak teperikan, kalau saja tidak di dalam kelas, aku akan menangis sejadi-jadinya melihat kejadian di depan mataku, aku akan mengharu biru dan air mataku akan mengalir sepanjang sungai Alun di samping rumahku. Tak kuasa kulihat kejadian yang menampar mukaku, menginjak-nginjak sukmaku, mengiris hatiku dengan sembilu, tak henti-hentinya aku memaki diri yang bodoh, bodoh, dungu, dan segala macam kejelekan yang menggambarkan kebodohanku saat itu…aku berteriak dalam hati……. Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkk….tidakkk…..tidakkkkkkkk
Novi pun meneruskan membuka kado itu, dan setelah dilihat isi kado itu…..

Selusin ikat rambut berwarna-warni, dua buah bros jilbab berwarna perak, serta anting-anting plastik seperti yang dilihatnya di kalangan minggu kemarin. Semua itu dibungkus di kaleng bekas rokok yang sudah tumahan(10). Kalau dihargai dengan uang, kira-kira Rp. 5.000,-

sisukaHatiku menangis sesengguk’an, hancur, air mataku kini tak terbendung oleh Sungai Alun, dan tak kuasa aku melihat pemandangan yang sangat menyentuh hatiku itu…..
Namun semua itu hanya terlihat dari linangan air mataku yang belum sempat tumpah. Untuk menutupi perasaan itu, aku menundukkan kepala, dan makian tak berhenti menujam dadaku, menyesal teramat dalam. Kenapa aku tidak membeli kado dan berlaku seperti Munandar. Padahal aku bisa berbuat lebih dari itu…

Setelah semua isi kado dikeluarkan, tiba-tiba Novi beranjak ke depan kelas. Dan memberikan kata sambutan. Semua siswa terdiam kembali…
”teman-teman semua, hari ini adalah hari yang sangat istimewa untukku, aku tidak pernah menyangka teman-teman begitu baik padaku, aku diberi kado yang sangat spesial oleh Munandar dihari kelahiranku, dan ini sangat surprise, tak ada yang lebih bahagia dari hari ini selama kebersamaan kita, ketulusan adalah segalanya, kecintaan kita sebagai sahabat adalah lebih utama dari segalanya, apalah arti sebuah nilai tanpa ketulusan dihati kita masing-masing. Tapi ternyata ketulusan teman-teman telah dibuktikan hari ini, dan aku akan selalu mengingatnya setelah saya sampai di sekolah yang baru”

Apa…….????? Sekolah yang baru, Supratman terkejut mendengar ucapan Novi tentang sekolahan yang baru, begitu juga siswa lainnya. Namun yang tak kalah terkejutnya adalah aku yang tertunduk layu tak berdaya, namun aku tak berani menatap mata Novi, walau aku sangat terkejut dengan ucapannya itu dan semakin memaki diriku sendiri, padahal biasanya aku sangat vokal untuk urusan seperti ini. Namun kali ini aku hanya meredam bara api dalam dadaku, tak berani berbuat apa-apa.

”Ya teman-teman, hari ini adalah hari terakhir aku di SMP ini, dan besok pagi sudah berangkat ke Muara Enim dan seterusnya akan ke Palembang dan bersekolah di sana. Namun aku sangat bahagia sekali karena hari ini aku mendapatkan Surprise dan aku akan selalu mengingat kebaikan teman-teman di sini. Belum selesai Novi bicara…. Pak Syahrial sudah masuk ke kelas disertai Jhoni di belakangnya.

Tanpa basa-basi dia bertanya kepada Novi, dan Novi menjelaskan sebentar duduk perkaranya, dan akhirnya ia dipersilakan kembali duduk ke tempatnya semula. Dan Pak syahrial langsung beralih perhatiannya ke Jhoni,….

Anak-anak, hari ini Jhoni kedapatan merokok dalam WC. Baru saja dihukum di ruang kepala sekolah. Namun katanya Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya itu lagi. Nah, sekarang dia mau berjanji di depan kelas ini biar semua teman-temannya tahu, dan setelah itu Jhon..!! kamu bacakan surat cinta yang ada dalam tas kamu itu di depan kelas biar mereka juga tahu perasaanmu. Tapi pak, surat itu bukan milik saya, tapi milik Mang… Jhoni mengklarifikasi,… (mendengar itu, siswa lainnya terkejut apalgi aku, yang namanya disebut pemilik surat cinta itu, aku semakin mengutuk-ngutuk kebodohanku sendiri). Tidak apa-apa Jhon, yang penting mereka semua tahu bahwa itu surat cinta, lagian mana ada amplop begitu bukan surat cinta, kan ada gambar laki-laki dewasa disana. Ayo sekarang kamu mulai.

Akhirnya Jhon berjanji dengan lantang di depan kelas, dan setelah itu sejarah ”hidupku terpatri di kelas ini, disaksikan puluhan siswa menjadi saksi ”matinya seorang nahkoda cinta”.

Sebelum memulai membaca surat ”cinta” Jhoni melirik kepadaku yang tertunduk, menahan malu luar biasa. Tak pelak lagi semua harga diriku hancur luluh di mulut Jhoni, kata-katanya hari ini akan menjadi begitu berbisa, menambah kepedihan yang sudah kronis dan berkarat karena peristiwa beberapa menit yang lalu, kini harus bertambah lagi luka yang kubuat sendiri, kepedihan hati karena sayatan sembilu kemudian di tetesi air jeruk nipis, tak bisa dibayangkan betapa perihnya. Mata siswa-siswa sekelas menghujam ke arahku, dan terdengar  pula riuh rendah siswa dari kelas lain berkhidmat konsentrasi di depan kaca nako di samping kelas, ingin menyaksikan sebuah fenomena luar biasa, ”Lahirnya Pecundang Sejati”

Dengan gugup dan gemetaran suara Jhoni mulai bergema, jelas sekali di telinga ini:

Pulau Panggung,   1997

Untuk sang pujaan hati
Novilisha di rumah

Aku ingin kamu tahu Pelangi, setelah pertemuan kita di perpustakaan dulu, betapa senang rasanya bila aku menyebut namamu,
ntah ada apa dalam dada ini, jika malam telah tiba, aku tersenyum membayangkanmu, mengingatmu dalam rintik-rintik hujan, dalam kesunyian dan dinginnya  malam kusempatkan diri menyebut namamu,
kamu selalu datang kepadaku, meski hanya bayang-bayang wajahmu…
Oh pelangi, engkaulah cahaya hidupku.
Senyum-senyummu menggodaku, menelan semua sukma laraku
Ketegasanmu dalam diskusi memberikan ruang untukku mengaggumimu
Kelembutan hatimu…menginspirasi ketenanganku…
Oh… pelangi, sekarang hari ulang tahunmu…
Aku ingin memberikan kata-kata ini untukmu….

Sampai kata-kata ini Jhoni berhenti membaca,….. ia tidak bisa berkata-kata apalagi, ia terdiam. Hal ini membuat pak Syahrial berujar, ”kenapa berhenti, masih panjang kan suratnya itu…teruskan, semua siswa masih ingin mendengar”
Tapi… pak….?? Jhoni membela diri….
Tidak ada tapi, tapi an, teruskan atau kamu nanti yang Bapak hukum….

Dengan berat hati Jhoni meneruskan bacaannya, namun sebelumnya ia melirik ke arahku yang sudah lemas dan pasrah menerima nasib karena kebodohanku sendiri.

Jhoni mengulang kata-kata terakhir surat tersebut dan melanjutkan bacaannya,

Aku ingin memberikan kata-kata ini untukmu….
”caluk() yang sudah dicampur cabe, dicemplungkan ke dalam kuali yang sudah disiapkan….” belum selesai membaca….

babySiswa-siswa  tertawa terbahak…bahak, bahkan sampai terpingkal-pingkal dan ada yang sakit perut mendengar kata-kata itu
Sedangkan aku terkejut bukan main, dan kembali shock…. mukaku merah padam, aku ditelanjangi karena kecerobohanku sendiri, aku salah masuk surat, yang ternyata berisi draft yang seharusnya aku musnahkan sebelumnya, dan sialnya lagi itu kertas bekas tulisan ibuku untuk membuat resep masakan pindang pegagan yang ditulis pakai pensil, jadi pas malam lampu mati tidak begitu jelas terlihat karena mataku sudah tidak fokus, kembali aku memaki diriku yang sudah jatuh ditimpa tangga, ketumpahan cat, digigit semut, dan disengat lebah, begitulah nasibku waktu itu. Celakanya lagi  kerumunan siswa-siswa lain tambah banyak bergrombolan ingin menyaksikan fenomena luar biasa  ini. Rasanya aku ingin keluar dari ruangan daripada aku tambah malu… tapi aku tidak berani, pak Syahrial pasti marah besar…. akhirnya dengan sisa energi yang tinggal 1% aku masih bertahan mendengarkan ”surat+resep masakan” sampai selesai.

Di akhir bacaan, Jhoni membaca pelan tapi jelas, from Ma’ul untuk Jessica books300
(kembali lagi suara tertawa menggelegar memenuhi SMPN 1 Semendo) sekarang bukan lagi ditelanjangi, melainkan dikuliti hingga ke sumsum, mendera hatiku. Karena dari kata-kata itu jelas terbukti bahwa aku menggunakan amplop bekas, bekas saudaraku untuk kekasih hatinya. Benar-benar lelaki yang tak bermodal… begitu celoteh adik kelas yang sempat terdengar ditelingaku. Membuat merah telingaku, bak udang goreng di warung pak Mat, tapi aku tidak berdaya sama sekali saat itu.

Sepanjang kejadian pembacaan ”surat+resep masakan”, terlihat olehku Novilisha tertunduk malu. Namun yang semakin membuat kesedihan mendalam, aku melihat matanya sembab dan lingkaran merah terlihat jelas dikedua kelopak matanya. ”Oh…tuhan… aku telah membuatnya malu, aku telah membuatnya menangis, hukumlah diri ini yang telah membuat kekasihku seperti itu Tuhan,…”  tak terperi rasa ini melihat dia seperti itu, semuanya adalah gara-gara kecerobohan diri ini.

Dengan selesainya pembacaan surat itu, para siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Mereka begitu lega, karena memperoleh ”tontonan gratis” berjudul ”lahirnya pecundang sejati” dan sutradaranya adalah pak Syahrial dan pelaku utamanya adalah Mang.

Baru saja kelas reda dari pengaruh fenomena unik dan aneh, ada kepala sekolah beserta orang tua  Novilisha mengetuk pintu dan bercengkrama sebentar dengan pak Syahrial. kulihat Novilisha sudah siap dengan tas sandangnya bersiap berangkat mengikuti orang tuanya meninggalkan ruangan kelas. Tetapi sebelum keluar, orang tuanya memberi kesempatan Novilisha untuk menyampaikan sambutan perpisahan terakhir dengan teman-teman sekelasnya. Seluruh teman sekelas terdiam sejenak dan berkhidmat mendengarkan kata-kata terakhir Novilisha di kelas tersebut. Semua terlena atas kejadian barusan dan berkonsentrasi tinggi mendengarkan kata-kata terakhir Novilisha.

Aku tak bisa memandang mata Novilisha, tetap saja tertunduk malu. Kesalahanku tak termaafkan kepadanya, angan-anganku tentang senyumnya, kini berubah menjadi kesedihan tak terperi dan tampak jelas dari lingkaran merah dikedua kelopak matanya. Ingin sekali aku minta maaf, tapi apa daya aku tak sanggup melakukannya. Jadilah aku sebagai pecundang tulen, berani berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab.

Disaat rasa bersalah tersebut menghantuiku, dan beribu makian telah kuucapkan untuk diriku, terdengar suara Novilisha yang begitu kecewa dengan kejadian barusan. Dia tidak menerima semua perlakuanku, dia kecewa denganku yang menurutnya telah membunuh karakternya, dia tidak pernah menyangka betapa kerdilnya aku, sehingga kejadian barusan terjadi disaat dia bangga dengan hadiah istimewa Munandar, dia dicampakkan dengan ulahku melalui ”Surat Cinta +resep masakan” dia telah salah memilih orang, yang dianggapnya seorang pangeran yang tegas, seorang yang penuh perhatian, namun hanyalah pecundang, pengecut yang kere, tidak tahu malu, egois, dan dia berharap ini untuk terakhir kalinya dia bertemu dengan orang seperti itu.  Dia menganalogikan pertemuan denganku adalah suatu musibah, dan dia meminta perlindungan untuk tidak bertemu dengan orang seperti itu lagi di masa yang akan datang. Begitulah harapannya yang terakhir, dan kepada semua siswa disini dia berpesan untuk saling berhubungan walau hanya dengan surat, tetapi untuk orang yang mengaku-ngaku sebagai pecinta sejati, tetapi hanya sebagai pecundang kere dan tidak punya hati nurani, dengan berat hati tertutup sudah pintu untukknya meskipun hanya dalam sebatas surat (itulah kata-katanya yang membuatku tak bisa bernafas untuk beberapa saat).

Emosi Novilisha sedang memuncak saat itu, ia tidak tahu lagi harus bagaimana, karena ia benar-benar telanjur memiliki perasaan kepadaku, tetapi rasa harapnya dibalas dengan sebuah surat yang ”memalukan” inilah yang membuat dia Down dan sambil menangis dia keluar ruang kelas menuju mobil orang tuanya, yang diikuti oleh teman sekelas melepas kepergiannya.

Aku tidak berani mengantarnya, apalagi dengan kata-kata terakhirnya yang langsung mengarah kepadaku. Namun dengan perasaan bersalah kuikuti juga rombongan sekelas mengantar kepergiannya di depan pintu sekolah sekadar untuk melihat belakang mobil yang menjemputnya. Setelah mereka berlalu aku kembali ke kelas lebih dulu, kuambil semua buku-buku, dan langsung pulang saat itu juga. Tidak perduli lagi dengan ancaman pak Syahrial, dan komentar teman-teman yang lain. Aku berlalu mencari ketenangan untuk lamanya waktu yang tidak ditentukan.

__________________

1. ayam hutan
2. Selimut Merah
3. Alat mengangkut/mengambil Kayu Bakar, dll
4. Tanah Lapang tempat ngadu layang-layang
5. Tempat Tidur yang terbuat dari Kapuk
6. Main-Main / Jalan-jalan keliling Kalangan
7. Pasar Tradisional
8. Orang Berpangkat/ orang terpandang
9. Obor/Lampu Teplok
10. Karatan

2 Tanggapan

  1. karangan sape tini kang😀

  2. alap ceritenye…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: