Andaikan Abang Jadi Bupati Dairi

Sebuah Obrolan Singkat Batak Post dengan Seorang Guru Etos (Jansen Sinamo)

Keynote: Cari ilmu meski ke negara China, Liat Maksudnya, Liat Etosnya🙂 Selamat membaca

“Bang, andaikan Abang jadi Bupati Dairi, apa program Abang memajukan Dairi?” demikian wartawan Batak Pos itu memulai wawancaranya beberapa bulan lalu di kantorku.

“SDM,” jawabku to the point.

“Apa???” sergahnya. Ia tampak kaget.

Es-de-em, sum-ber–da- ya–ma-nu- si-a,” kataku dengan sabar, suara lebih keras dan lambat.

“Kenapa kok itu, Bang.”

Begini. Dari zaman dulu hingga kini produk Dairi paling utama adalah SDM; bukan kopi, bukan nilam, bukan jagung, bukan cabe, apalagi parawisata.

Si wartawan seperti limbung, terdiam. Lalu kuteruskan ceramahku…

“Satu tokoh yang membuat Dairi itu harum adalah L. Manik. Dia mewariskan ‘Satu Nusa Satu Bangsa‘ buat Indonesia. Dan lagu itu akan abadi. Selama Indonesia masih ada di bumi lagu itu akan terus dikumandangkan dengan takzim, penuh getar, dan rasa cinta buat negeri ini. Kau hargai dengan berapa ratus ton kopi Sidikalang lagu yang satu itu?” serbuku menggebu-gebu.

“Tak ternilailah, Bang.” katanya seperti sudah menangkap seluruh maksudku.

“Dan itu baru satu lagu lho. Belum lagi ‘Desaku yang Kucinta‘.” “Kau tahu Jenderal TB Simatupang kan?” gantian aku yang bertanya.

“Tahulah, Bang; emang dia orang Dairi?” katanya setengah kaget.

“Ya, iyalah. Dia itu lahir di Sidikalang tanggal 28 Januari 1920.” ujarku dengan mantap karena sudah merasa di atas angin. Tanggal ini kebetulan kuhafal betul karena waktu peresmian monumennya yang di Letter S, Sitinjo, itu dulu aku yang ditugasi panitia menulis riwayat [singkat] hidupnya.

“Dialah jenderal yang orang Batak paling hebat. Pada umur 29 tahun dia sudah jadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat jenderal mayor. Dan dia bukan jenderal jenis Nagabonar ya. Dialah otak TNI di masa awal kemerdekaan kita. Dia itu arsitek pembangunan TNI. Dari tangannyalah lahir doktrin Sapta Marga yang menjadi sendi TNI hingga kini.” kataku tambah bersemangat.

“Tapi maaf ya, Bang; perbandingan Abang tidak ‘apple to apple‘ — maksud saya, secara ekonomis, kan kedua tokoh itu tidak ada artinya apa-apa buat Dairi. Membangun Dairi maksud saya membangun secara ekonomis, Bang.”

(Bah, baba-ni-ama ni baeon, inna rohangku di bagasan. Ai nang pe iba ndang sehebat angka mantan pramuka nabernostalgia di milis on, alai anggo rasa kebangsaan, nasionalisme, and the making spirit of Indonesia marsigor-gor dope tong di roha niba on.)

“Kau tahu larik ‘Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’ dipetik dari lagu apa?”

Indonesia Raya, Bang, apalagi?.”

“Nah, orang-orang seperti L. Manik dan TB. Simatupang adalah pembangun jiwa Indonesia. Mereka adalah para arsitek jiwa keindonesiaan kita. Tapi ketika jiwa Indonesia semakin rusak oleh korupsi, bobrok oleh hedonisme, dan rapuh oleh pragmatisme maka pembangunan badan [ekonomi, fisik] Indonesiamu ini tak pernah akan jadi. Ia selalu runtuh, kembali terus ke titik nol.”

“Tapi okelah, lepas dari itu, kau kenal Toman Tobing?”

“Tidak, Bang.”

“Togam Gultom?”

“Tidak, Bang.”

“Marangkup Manik?”

“Nggak juga, Bang. Siapa mereka, Bang?”

“Nggak apa-apa kau tidak kenal, tepatnya, belum kau kenal. Mereka adalah insinyur muda putra Dairi, ketiganya lulusan ITB. Mereka telah berhasil membuka lapangan kerja buat ratusan orang, bikin perusahaan sendiri, kerjasama dengan Belanda, dengan Jerman, dengan Amerika; dan secara ekonomis telah punya omzet puluhan bahkan ratusan milyar per tahun. Memang mereka belum sebesar Ciputra atau Panigoro, tapi merekalah ptrototipe anak-anak Dairi di masa depan.”

“Wah, gitu ya Bang.”

“Yap. Dan aku masih bisa cerita sama kau, ada ratusan anak Dairi seperti mereka, yang lulus dari USU, UI, IPB, Gajah Mada, Parahyangan, Pajajaran, dsb.; yang jika dilihat dari kacamata ekonomismu tadi sesungguhnya masing-masing adalah pabrik uang yang cukup dahsyat.”

“Wah, benar juga abang ini. Kok kita selama ini nggak sadar ya, Bang?”

“Ah, kau saja yang nggak sadar, ha-ha-ha. Juga teman-temanmu itu: para bupati di seluruh Tanah Batak. Kalau mamak-mamak orang Batak sudah lama menyadarinya. Mereka yang bilang sambil berdendang ‘Anakhonhi do hamoraon di ahu‘ dan bukan ‘sabanghi, jumanghi, horbonghi, pinahanhi, serenghi’. Mereka tahu, kalau anaknya kelak sukses bersekolah, maka sere, pinahan, saba, hepeng, akan datang dengan sendirinya.

“Setuju, Bang.”

“Oke. Kau kenal Juniver Girsang dan Junimart Girsang?”

“Tahu Bang, tapi belum kenal. Mereka bersaudara ya, Bang?”

“Ya. Kau tahu berapa penghasilan mereka berdua sebagai pengacara papan atas?”

“Wah, nggak tahu, Bang.”

“Tebak aja, salah nggak apa-apa.”

“Puluhan milyar pastinya, Bang.”

“Kecil itu. Kalikan saja sepuluh kali.”

“Wah, sampai segitu ya, Bang.”

“O iya. Nah, sekarang coba tebak. Berapa kiriman mereka buat orangtuanya, ompungnya, tulangnya, namborunya, gerejanya, punguan marganya di Dairi sana setiap tahunnya?”

“Pasti banyaklah, Bang”

“Oke. Nah, seandainya Bapak RKJ Girsang [alm. ayah mereka; red.] dahulu memilih berinvestasi di bidang kopi, lalu dia bikin kebon kopi 2×5 hektar, investasi yang mana lebih menguntungkan: pada 2 orang anak yang bernama Juniver dan Junimart atau pada 2 bidang kebon kopi @ 5 hektar?”

“Investasi pada manusia pastinya, Bang.”

“Nah, sekarang bila kau sudah mengerti maksudku, kuharap jawabanku di atas jadi jelas sekarang. Andaikan aku jadi bupati Dairi, maka setiap tahun akan kusisihkan anggaran untuk memilih, mendidik, dan menyiapkan anak-anak Dairi terbaik di tiap level pendidikan sehingga beberapa dekade ke depan Dairi bakal mempunyai ribuan manusia-manusia profesional berkelas nasional/internasio nal sebagai lawyer, insinyur, akuntan, konsultan, banker, dokter, guru, industriwan, trader, dealmaker, entrepeneur, broker, investor, yang mampu memproduksi kekayaan seribu kali dari level orangtua mereka.”

“Wah, keren kalau gitu, Bang. Terus siapa yang mengurus pertanian dan peternakan?”

“Lho, kopi, jagung, padi, kemiri, cabe, kol dan tomat tetap penting. Demikian juga sapi, kerbau, babi, ayam, bebek, dan ikan. Tapi semuanya itu sekunder bahkan tertier belaka. Yang primer adalah SDM Dairi, putra-putri Dairi.”

“Hhmm.”

“Kau pasti tahu, nama-nama yang kusebut di atas tadi, semuanya bersekolah tanpa sentuhan tangan Bupati Dairi di zamannya. Dan toh bisa juga diproduksi putra-putri yang bagus-bagus. Bayangkan bila ada bupati yang memberi hati dan anggaran yang serius.”

“Wah, kurasa abang yang cocok jadi bupati. Kenapa tidak ikut mencalonkan diri jadi bupati Dairi, Bang?”

“Aku tak cocok jadi bupati. Aku ini guru. Puncak karir guru itu menjadi guru besar, bukan menjadi bupati.”

“Tapi kurasa, guru seperti abang harus mau terjun jadi bupati.”

“Itu jadi tema wawancara berikutlah ya. Tapi singkatnya beginilah: orang yang terpanggil jadi bupati/gubernur/ mp/jenderal/ hakim kastanya Kesatrya. Orang yang terpanggil jadi pedagang/bisnismen/ industriwan kastanya Wesya. Sedangkan orang yang terpanggil jadi pendeta/filsuf/ guru kastanya Brahmana. Nah, aku ini golongan Brahmana. Yang bikin kacau itu semua golongan ingin menjadi Kesatrya.”

***

Itulah ringkasan wawancara wartawan BP dengan saya. Minta maaf kpd sobat Waldensius, yang tak ikut namanya kusebut-sebut, meski kejagoannya di bidangnya mungkin lebih dahsyat dari kedua adiknya; juga sobat-sobat lain yang sesungguhnya patut pula disebut.

Sumber: http://jansen-sinamo.blogspot.com/2008/12/andai-guru-etos-jadi-bupati-dairi.html

5 Tanggapan

  1. Kalu abang jadi bupai Dairi….
    Aku dekde nak muluk – muluk jadi wakilnye jadilah.! kurase itu kombinasi ye cocok.

  2. TERIMKASIH ATAS INFORMASI DAN TULISANYA YANG CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG DINAMIKA KEHIDUPAN SUKU PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM
    http://boeangsaoet.wordpress.com

  3. Horaas Bah! Habis beras, makan gabah!

  4. kebile mangke Jeme Semende Jadi Bupat Muara Enim/atau Bupati kabupaten baru Semende Pajang sampai ke ujung bayur.ha-ha- cacak e bae mang ame ade dian itulah harapan

  5. siapapun yang akan jadi bupati dairi,,,
    wujudkana pap yang menjadi VISI dan MISI yang pro aktif kepada masyarakat,,,dan memperhatikan pendidikan.
    i love dairi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: