Komik Semende: Midang Ke Jakarta

Ke Jakarta Aku Kan Kembali

Di Jakarta Betemu Dengan Gadis Semende

Di Jakarta Betemu Dengan Gadis Semende

Komik di atas adalah sebuah unek-unek ringan yang penulis buat untuk mengisi waktu luang. Saksikan kelanjutan Ceritanya… (Klik Gambar Untuk Memperbesar)

Iklan

Objek Wisata Energi Terbarukan, Penantang Baru Produk Kopi Semende Yang Sudah Terkenal Itu

Bila anda pernah mendengar kata “Semende” atau “Semendo” maka sebagian besar akan menyebutkan bahwa kata tersebut selalu terkait dengan salah satu minuman khas di Indonesia, yaitu “KOPI”. Ya… memang seperti itu adanya… Semende  sudah terkenal sejak lama sebagai salah satu daerah penghasil  minuman kenikmatan yang menurut sebagian orang minuman ini dapat menyebabkan candu.

Fakta ini tidaklah berlebihan, dengan ketinggian elevasi  800 hingga 1200 meter di atas permukaan laut, menyebabkan daerah Semende merupakan  daerah yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman keras yang satu ini. Apalagi kalau bukan kopi arabika yang wanginya tercium semerbak mewangi mengundang selera untuk menghabiskan minuman ini, hingga tetes terakhir. Dan satu lagi, rasa kopi terbaik itu adalah kopi yang ditanam pada ketinggian yang relatif lebih tinggi dari permukaan laut. Makanya kopi dari Semende Maknyusss…. Slurrrpp…. Slurrpp… Habislah kopinya.

Tapi tenang…. sekarang Semende memiliki penantang baru…. mau tahu…benar…. mau tahu…. yang sabar dulu ya…?? hehe 🙂 😉 Baca lebih lanjut

Dibutuhkan 10.000 Sang Pemimpi di Semende

Dalam cerita Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal- alter egon Andrea Hirata, sedangkan Arai adalah saudara jauh yang yatim piatu yang disebut “simpai keramatLanjutkan

=============*******************===========

Awal mulanya Ikal  adalah anak seorang anak kuli bangunan PT.Timah di Belitung, dia memiliki teman yang merupakan saudara jauhnya yang sudah yatim piatu yang bernama Arai.  Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Arai bermimpi untuk mewujudkan cita-citanya belajar di negeri Napoleon Bonaparte, Prancis.

Melihat kondisi kehidupan Ikal dan Arai waktu kecil, adalah suatu kemustahilan untuk mewujudkan cita-cita besarnya belajar ke Prancis. Karena baik Arai maupun Ikal adalah anak-anak Kampung, Miskin, dan tinggal di pedalaman pulau Belitung yang jauh dari kondisi akademis yang bisa menunjang  mimpi mereka.

Namun, dilatarbelakangi oleh mimpi yang besar, gairah hidup yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita mereka, maka setahap demi setahap halangan dan rintangan mampu mereka lalui dengan sukses.

Kesuksesan yang mereka impikan, tidak dijalani dengan mudah. Penuh lika-liku ujian yang terkadang membuat mereka berputus asa. Mereka hidup bagaikan alir mengalir, mereka jalani semua proses-proses manusiawi, bekerja, belajar, naksir perempuan yang mereka sukai, mereka menangis, mereka terkadang melawan dengan orang-orang yang terkadang mencintai mereka dan bahkan mereka juga terkadang gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun semua yang dilakukan itu adalah proses dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.

Mereka memiliki mimpi, yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan roda energi dalam tubuh mereka yang terhalang oleh “tirai-tirai kemustahilan” yang harus mereka hancurkan dengan kristal-kristal keringat, dan bahkan air mata.

Menilik kehidupan masa kecil mereka, masa-masa dimana pribadi-pribadi baja mereka terbentuk, maka tida ada salahnya kita menoleh ke belakang dimana kita dibesarkan, dimana kita dilahirkan dengan segala keterbatasan yang ada, bahkan bagian dari kehidupan masa kecil kita tidak jauh kondisinya dengan kondisi mereka yang terpinggirkan oleh sistem, terpatahkan oleh ketiadaan  akan materi, dan kadang tersingkirkan oleh karena kita tidak memiliki jabatan dalam suatu pemerintahan, maka seyogyanyalah kita untuk bangkit  dan berlari mengejar mimpi-mimpi kita yang sangat membara dalam dada dan sanubari kita.

“Tak akan ada yang bisa merubah nasib kita tanpa kita mengubahnya sendiri. Tak ada cita-cita besar yang berhasil dengan  “kundu”  kecil”

Karena memang sudah hukum alam, atau memang digariskan oleh Allah SWT bahwa sesuatu yang besar harus ditopang dan dijalankan dengan energi dan jiwa yang besar. Darimana jiwa dan energi yang besar itu dilahirkan…??  Jawabnya ada di dalam dada kita, dalam fikiran kita, dan hal itu harus ditopang dengan jiwa yang berani meraih resiko yang terbesar sekalipun. Baca lebih lanjut

INILAH CERITE TENTANG PEMBURU DAN BATIN MPAI UDIM MELUKU

Suatu hari ada seorang pemburu yang kehabisan bekal, sedangkan perutnya sudah lapar sekali. Dengan susah payah ia berharap bertemu seseorang dengan harapan bisa menolongnya memberi sedikit makanan buat mengisi perutnya yang sudah kelaparan. Akhinya dia bertemu dengan seorang “batin” di “dangau” yang sedang istirahat dan sebentar lagi akan menyantap bekal yang dibawanya. Dengan perasaan gembira Pemburu beranjak menemui “batin” itu dengan harapan dapat memberi dia sesuatu untuk mengganjal perutnya. Setelah sampai di “dangau” terjadilah percakapan berikut ini:

Pemburu : Assalamualaikum, Mang…!!!
Batin: Walaikum salam…
Pemburu: Numpang beghadu dikit Mang… adak mpai ude beburu… (Pemburu itu bebasa basi, sambil melepas sepatu Bot lah tukak tumitnye, terustu duduk di kayu Kung dangau berharap dipantau li Batin itu tadi).
Batin: Lajulah, dikkah ngape… ame jiku naik kiah ke pucuk, sambil kite ngecap gulaian ibung kamu nih…. (batin itu bebasa basi, memang die dik beniat nak ngajak makan, karne kebiaseean jeme Semende bebasa basi dengan sape kinah, laju teumung pule nga pemburu itu)
Pemburu : Nah… ini die luka’an (awak tini lah ndie tu ditunggu-tunggu… dalam ati, langsung naik ke dangau ngayapi idangan)
Batin: Dalam ati batin itu (Nah…. ngguk nian batin ini ni, awak aku tadi sembawe ampung, lah ngayap nian ke sini… lukak kurang suap kalu mak ini ceritenye; mula’i batin itu beperangi)

Dengan berat ati batin itu mbagi ibatan nasinye.
Saking lapaghnye dik bemalu agi  mikut makan pule…. ndik basa basi lagi pemburu itu ngumung-ngumung nga Batin tu sambil makan;

Pemburu: Nduk… Mang, lemak pule nasi kamu nih…mane mempur lemak kiamat neguknye…Tuape name  tini…?
Batin: (Karne lah marah, die mulai beperangi nga pemburu tu)… au…lemak ndie Nasi  ni, namenye Beghas SEKALI NGAJAK LAH GALAK…MANGKENYE ASENYE LEMAK KIAMATTTAN…..!!!!
Pemburu: Oooo…ooo… Mak itu…!! (die belum sadar), trus kalu teghung kamu ni kecik-kecik menae pule, ade dikde yang besak agi…?
Nengagh Umungan Luk itu, batin itu Emosi… jawabnyelah…Gegacang…
Batin: Ade agi, yang besak LUK INI….. (Sambil ngacungkah GUCUH ke dai pemburu tu),

Nginak batin tu lah luk itu, mpai sadar kalu die lah mbuat batin tu marah, karne ngurangi suapnye…Untung die lah ude makan, laju belaghi gegacang… sebelum batin itu ngeluaghkah gerahang….

Disadur dari cerita sang kakak waktu penulis masih SD

Selamat Menikmati

Tupak Lum Masak, Kincit Lah Benarai…

Luk biasenye Ude makan lepas magrib, Mang Panjul nga anak-anaknye   Sudin (ye tue 16th), Murkan (ye tengah 15th), Nga ye kecik  sekali namenye Mursyid (14th), ngerdahay di dangau badah pendedakan. Ade pule bini mang Panjul namenye ibung Martini, anye die dang bebires-bires badah makan langsung nyuci piring ke ayik luang, laju lum pacak nak ncintung umungan mang Panjul nak beranak.

Makan malam ni agak rene juge asenye tu (mang Panjul mbuka cerite), Gulai ampu’an gendule, ulam petai campur embing matah di tambah pule sambal cung kedire, ikan keli due ikuk  gulehan nagang di ayik Inim. Padi empai lah sebakul  udim di ghadas nak beranak.

Ui…. asekah masuk serge asenye idup nie kalu lah makan makini saje… sambil ngidupkah rukuk lintingan die ngunjuwkah keting.

Mpuk ikan keli gi due ikuk anye kuahnye ade nga sepanci besak, soalnye ame gi dikit menae ikannye laju dikebagian. Guleh anyigh ikan jadilah mpuk dik ikannye di makan, mbak itulah ame care mang Panjul nga Ibung Martini ngalah dalam soal makan ndik anak-anaknye tadi, terutame dengan anak-anak nye  Murkan(15th) nga Mursyid (14th).

Mpuk gi tamat SD, mang Panjul keruan kalu dakkecik itu perlu makanan begizi, njadi nak didulukah dalam soal makan. Jangah diktau, Mangke dikde Upul menae, kalu mereka lah besak kele. Mbak itulah kate mang Panjul nga anak-anaknye suatu hari. Baca lebih lanjut

INDONESIA MENJADI NEGARA MAJU TAHUN 2040

Sriwijaya Post – Jumat, 4 September 2009
JAKARTA – Standard Chartered Bank (SCB) Indonesia meluncurkan sebuah laporan khusus hasil riset perkembangan ekonomi dan pasar finansial Indonesia pada 2009.
Analisa ini menunjukkan potensi Indonesia di ekonomi global sehingga bisa dikategorikan negara maju G-7 pada 2040 nanti. Dengan kata lain butuh 31 tahun lahi bagi Indonesia menyamai ekonomi negara Amerika Serikat atau Jerman.
“Berdasarkan angka pertumbuhan rata-rata tahunan dari negara-negara G-20 antara 200-2008 dan asumsi bahwa pertumbuhan Indonesia akan meningkat tajam di 2012 maka Indonesia diperkirakan akan dapat melampaui misalnya Korea Selatan di tahun 2016, Jepang di 2024, Inggris di 2031 dan Jerman di 2040,” kata Ekonom SCB Indonesia Fauzi Ichsan pada peluncuran laporan khusus 2009 bertopik “Indonesia: Asia’s Emerging Powerhouse” di Jakarta, Rabu (2/9), malam. Baca lebih lanjut

BABEL AKAN INVENTARISIR KARYA SENI BUDAYA, SUMSEL Kapan….???

Selasa, 1 September 2009 | 02:10 WIB

PANGKALPINANG, KOMPAS.com–Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) akan menginventarisasi karya seni dan budaya daerah, untuk dipatenkan.

“Kreasi seni dan budaya akan diinventarisasi dan kemudian dipatenkan agar tidak diklaim oleh daerah lain bahwa itu adalah karya mereka,” kata Gubernur Babel Eko Maulana Ali di Pangkalpinang, Senin.

Hal itu dikemukakannya sehubungan adanya klaim budaya Indonesia oleh Malaysia yang salah satunya adalah tari pendet diakui pihak Malaysia berasal dari dari negaranya.

“Karya seni dan budaya itu harus dijaga dengan baik agar tidak diklaim, salah satunya dengan mempatenkan dan saya akan bicarakan hal ini dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Gubernur.

Langkah awal untuk menjaga karya seni dan budaya daerah agar tidak dicolong negara lain adalah dengan melakukan inventarisir terhadap karya asli daerah.

“Babel memiliki banyak karya seni dan budaya, termasuk karya saya sendiri di situ yang harus dijaga dengan baik dengan mempatenkannya,” ujarnya.

Menurut dia, mempatenkan karya seni dan budaya daerah itu sangat penting dan merupakan cara sangat tepat untuk menghindari terjadinya klaim.

“Kami akan lihat karya seni dan budaya apa saja yang akan dipatenkan, makanya harus diinventarisasi dulu. Kami minta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata melakukannya,” katanya.

Ia mengatakan karya seni dan budaya daerah harus terus dikembangkan dan dilestarikan karena itu menunjukkan ciri khas suatu daerah dan bagian dari daya tarik wisatawan.

“Seni dan budaya bagian yang juga tidak bisa dipisahkan dalam dunia kepariwisataan. Ini harus dijaga, terus dikembangkan, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergilas oleh kemajuan zaman,” ujarnya.

Sumber: www.kompas.co.id Baca lebih lanjut