Mari kita budayakan “mencontek”, mencontek itu baik….

Trik dan tip untuk menjadi kreatif, Cara yang paling mudah adalah “Mencontek”. Itulah fakta di lapangan…

Sebenarnya mencontek adalah perbuatan “Terpuji” dalam dunia kreatifitas. Karena mencontek adalah proses untuk membuat sesuatu yang baru. Kita bisa membaca sejarah bahwa negara Jepang dulu juga mencontek. Mereka mencontek mobil-mobil yang dibuat dari Amerika. Kemudian mereka mulai merubah sedikit-demi sedikit hasil contekannya supaya tidak sama dengan buatan Amerika. Suatu masa Jepang mencotek mobil buatan USA, sejalan dengan waktu ternyata mobil yang dibuat Amerika tidak sesuai dengan tubuh orang-orang Asia yang rata-rata lebih kecil dibanding orang Amerika/Eropa. Maka dengan kreatifitasnya Jepang membuat mobil dengan ukuran yang lebih kecil dan tentunya lebih hemat bahan bakar, dan hasilnya di Indonesia dapat kita lihat lebih banyak mobil “hasil contekan” dibandingkan mobil dari “yang diconteki” . Faktanya seperti itu kan…?? 🙂

Kita tidak usah membahas negara China, karena tidak dibahas juga tentu pembaca sudah melihat, mendengar, dan bahkan mungkin sudah menggunakan produk-produknya. Jadi tidak perlu di bahas kembali… hehe

Mari kita buka sedikit mata dalam hal “contek-mencontek” Baca lebih lanjut

Dibutuhkan 10.000 Sang Pemimpi di Semende

Dalam cerita Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal- alter egon Andrea Hirata, sedangkan Arai adalah saudara jauh yang yatim piatu yang disebut “simpai keramatLanjutkan

=============*******************===========

Awal mulanya Ikal  adalah anak seorang anak kuli bangunan PT.Timah di Belitung, dia memiliki teman yang merupakan saudara jauhnya yang sudah yatim piatu yang bernama Arai.  Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Arai bermimpi untuk mewujudkan cita-citanya belajar di negeri Napoleon Bonaparte, Prancis.

Melihat kondisi kehidupan Ikal dan Arai waktu kecil, adalah suatu kemustahilan untuk mewujudkan cita-cita besarnya belajar ke Prancis. Karena baik Arai maupun Ikal adalah anak-anak Kampung, Miskin, dan tinggal di pedalaman pulau Belitung yang jauh dari kondisi akademis yang bisa menunjang  mimpi mereka.

Namun, dilatarbelakangi oleh mimpi yang besar, gairah hidup yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita mereka, maka setahap demi setahap halangan dan rintangan mampu mereka lalui dengan sukses.

Kesuksesan yang mereka impikan, tidak dijalani dengan mudah. Penuh lika-liku ujian yang terkadang membuat mereka berputus asa. Mereka hidup bagaikan alir mengalir, mereka jalani semua proses-proses manusiawi, bekerja, belajar, naksir perempuan yang mereka sukai, mereka menangis, mereka terkadang melawan dengan orang-orang yang terkadang mencintai mereka dan bahkan mereka juga terkadang gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun semua yang dilakukan itu adalah proses dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.

Mereka memiliki mimpi, yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan roda energi dalam tubuh mereka yang terhalang oleh “tirai-tirai kemustahilan” yang harus mereka hancurkan dengan kristal-kristal keringat, dan bahkan air mata.

Menilik kehidupan masa kecil mereka, masa-masa dimana pribadi-pribadi baja mereka terbentuk, maka tida ada salahnya kita menoleh ke belakang dimana kita dibesarkan, dimana kita dilahirkan dengan segala keterbatasan yang ada, bahkan bagian dari kehidupan masa kecil kita tidak jauh kondisinya dengan kondisi mereka yang terpinggirkan oleh sistem, terpatahkan oleh ketiadaan  akan materi, dan kadang tersingkirkan oleh karena kita tidak memiliki jabatan dalam suatu pemerintahan, maka seyogyanyalah kita untuk bangkit  dan berlari mengejar mimpi-mimpi kita yang sangat membara dalam dada dan sanubari kita.

“Tak akan ada yang bisa merubah nasib kita tanpa kita mengubahnya sendiri. Tak ada cita-cita besar yang berhasil dengan  “kundu”  kecil”

Karena memang sudah hukum alam, atau memang digariskan oleh Allah SWT bahwa sesuatu yang besar harus ditopang dan dijalankan dengan energi dan jiwa yang besar. Darimana jiwa dan energi yang besar itu dilahirkan…??  Jawabnya ada di dalam dada kita, dalam fikiran kita, dan hal itu harus ditopang dengan jiwa yang berani meraih resiko yang terbesar sekalipun. Baca lebih lanjut

Andaikan Abang Jadi Bupati Dairi

Sebuah Obrolan Singkat Batak Post dengan Seorang Guru Etos (Jansen Sinamo)

Keynote: Cari ilmu meski ke negara China, Liat Maksudnya, Liat Etosnya 🙂 Selamat membaca

“Bang, andaikan Abang jadi Bupati Dairi, apa program Abang memajukan Dairi?” demikian wartawan Batak Pos itu memulai wawancaranya beberapa bulan lalu di kantorku.

“SDM,” jawabku to the point.

“Apa???” sergahnya. Ia tampak kaget.

Es-de-em, sum-ber–da- ya–ma-nu- si-a,” kataku dengan sabar, suara lebih keras dan lambat.

“Kenapa kok itu, Bang.”

Begini. Dari zaman dulu hingga kini produk Dairi paling utama adalah SDM; bukan kopi, bukan nilam, bukan jagung, bukan cabe, apalagi parawisata.

Si wartawan seperti limbung, terdiam. Lalu kuteruskan ceramahku…

“Satu tokoh yang membuat Dairi itu harum adalah L. Manik. Dia mewariskan ‘Satu Nusa Satu Bangsa‘ buat Indonesia. Dan lagu itu akan abadi. Selama Indonesia masih ada di bumi lagu itu akan terus dikumandangkan dengan takzim, penuh getar, dan rasa cinta buat negeri ini. Kau hargai dengan berapa ratus ton kopi Sidikalang lagu yang satu itu?” serbuku menggebu-gebu.

“Tak ternilailah, Bang.” katanya seperti sudah menangkap seluruh maksudku.

“Dan itu baru satu lagu lho. Belum lagi ‘Desaku yang Kucinta‘.” “Kau tahu Jenderal TB Simatupang kan?” gantian aku yang bertanya.

“Tahulah, Bang; emang dia orang Dairi?” katanya setengah kaget.

“Ya, iyalah. Dia itu lahir di Sidikalang tanggal 28 Januari 1920.” ujarku dengan mantap karena sudah merasa di atas angin. Tanggal ini kebetulan kuhafal betul karena waktu peresmian monumennya yang di Letter S, Sitinjo, itu dulu aku yang ditugasi panitia menulis riwayat [singkat] hidupnya.

“Dialah jenderal yang orang Batak paling hebat. Pada umur 29 tahun dia sudah jadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat jenderal mayor. Dan dia bukan jenderal jenis Nagabonar ya. Dialah otak TNI di masa awal kemerdekaan kita. Dia itu arsitek pembangunan TNI. Dari tangannyalah lahir doktrin Sapta Marga yang menjadi sendi TNI hingga kini.” kataku tambah bersemangat.

“Tapi maaf ya, Bang; perbandingan Abang tidak ‘apple to apple‘ — maksud saya, secara ekonomis, kan kedua tokoh itu tidak ada artinya apa-apa buat Dairi. Membangun Dairi maksud saya membangun secara ekonomis, Bang.” Baca lebih lanjut