Objek Wisata Energi Terbarukan, Penantang Baru Produk Kopi Semende Yang Sudah Terkenal Itu

Bila anda pernah mendengar kata “Semende” atau “Semendo” maka sebagian besar akan menyebutkan bahwa kata tersebut selalu terkait dengan salah satu minuman khas di Indonesia, yaitu “KOPI”. Ya… memang seperti itu adanya… Semende  sudah terkenal sejak lama sebagai salah satu daerah penghasil  minuman kenikmatan yang menurut sebagian orang minuman ini dapat menyebabkan candu.

Fakta ini tidaklah berlebihan, dengan ketinggian elevasi  800 hingga 1200 meter di atas permukaan laut, menyebabkan daerah Semende merupakan  daerah yang cukup baik untuk pertumbuhan tanaman keras yang satu ini. Apalagi kalau bukan kopi arabika yang wanginya tercium semerbak mewangi mengundang selera untuk menghabiskan minuman ini, hingga tetes terakhir. Dan satu lagi, rasa kopi terbaik itu adalah kopi yang ditanam pada ketinggian yang relatif lebih tinggi dari permukaan laut. Makanya kopi dari Semende Maknyusss…. Slurrrpp…. Slurrpp… Habislah kopinya.

Tapi tenang…. sekarang Semende memiliki penantang baru…. mau tahu…benar…. mau tahu…. yang sabar dulu ya…?? hehe 🙂 😉 Baca lebih lanjut

Iklan

Puluhan Hektare Sawah Terancam Kekeringan di Pajar Bulan Semende

Muara Enim, Pajar Bulan SDU– Bangunan irigasi Air Bantingan, Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semende Darat Ulu, Muara Enim,  Rabu malam (9/11) longsor sepanjang 17 meter, sehingga mengakibatkan puluhan hektare sawah terancam kekeringan.

Informasi yang dihimpun, berawal pada  Rabu (9/11) petang  terjadi  hujan deras yang melanda desa tersebut yang mengakibatkan debit air melimpah masuk ke dalam irigasi.

Kondisi irigasi yang masih terbuat dari tanah tersebut tidak kuat menampung beban air yang masuk, sehingga irigasi amblas sepanjang 17 meter dengan kedalam 2 meter.

Menurut Kepala Desa Pajar Bulan Muflih, yang dihubungi Kamis(11/11), jika tidak segera dilakukan perbaikan, longsornya  irigasi tersebut membuat 37 hektar sawah terancam kekeringan dan dan tidak bisa digarap. Warga juga kesulitan mendapatkan air untuk mandi dan mencuci.

“Warga  desa telah  di kerahkan untuk membuat dinding sementara guna mengalirkan air. Tetapi karena masih musim hujan dikhawatirkan dinding buatan itu  tidak kuat dan longsor lagi, sehingga menimbulkan longsor yang lebih besar. Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan dengan membangun irigasi yang permanen dari beton,” tambah Muflin.(Sahar)

Artikel Kiriman: khairul_amri67@yahoo.co.id
Sumber Berita: kabarserasan.com, Sumber Gbr Ilustrasi: suaramerdeka.com
 

Menuju Kopi Semende Ber-SNI (Sertifikat Nasional Indonesia)

Artikel ini adalah artikel awal mengenai pengelolaan tanaman kopi di Semende. Artikel ini bukanlah sebuah tutorial yang “mengajari” cara mengolah kopi, karena sebagian besar masyarakat Semende berprofesi sebagai petani kopi, tentu lebih ahli dan lebih mahir tentang urusan kopi/kawe dibanding penulis sendiri. Namun, karena ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui, sudah seharusnya informasi ini disebarluaskan. Sehingga harapan penulis, artikel sederhana ini bisa menjadi awal ”reformasi” pengolahan kopi khususnya di wilayah Semende sehingga memiliki nilai lebih dimasa yang akan datang.

Jenis Kopi yang Banyak Dikembangkan Di Dunia

Tanaman kopi adalah Pohon kecil yg bernama Purpugenus Coffea Dari famili Rubiaceae. Tanaman Kopi, yang umumnya Berasal dari benua Afrika, termasuk famili Rubiaceae dan jenis kelamin Coffea. Kopi dibagi menjadi 4 kelompok besar

a)       Coffea Canephora, yang salah satu jenis varietasnya menghasilkan kopi dagang Robusta;

b)      Coffea Arabica Menghasilkan Kopi Dagang Arabica

c)       Coffea Excelsa menghasilkan kopi Dagang Excelsa

d)       Coffea Liberica Menghasilkan Kopi dagang Liberica

Kuantitas Kopi yang Paling Banyak di Pasaran

Berdasarkan jenis kualitas & kuantitas, Kopi arabika Memiliki andil 70% Pasokan Kopi Dunia Sedangkan Robusta mengambil Bagian 24%, Liberica & Excelsa Masing-masing 3%. Arabica Dianggap lebih baek dari pada Robusta karma Rasa nya Lebih enak & Jumlah Kafein nya Lebih Rendah sebab itu Harga Kopi Arabica Lebih Mahal dari pada Robusta.

Pengolahan Kopi Di Dunia

Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus dihindari terjadinya kontaminasi dari beberapa hal yaitu :

  1. Fisik (tercampur dengan benda asing selain kopi, misalnya: rambut, kotoran, dll);
  2. Kimia (tercampur bahan-bahan kimia);
  3. Biologi (tercampur jasad renik yang bisa berasal dari pekerja yang sakit, kotoran/sampah di sekitar yang membusuk)

Secara umum pengolahan kopi di dunia dibagi menjadi tiga cara pengolahan biji kopi yaitu pengolahan kering, pengolahan basah, dan pengolahan semi basah.

Pengolahan Cara Kering

Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan di tingkat petani karena mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani. Tahap-tahap pengolahan kopi cara kering Pengeringan

  1. Kopi yang sudah dipetik dan disortasi (dipilih) harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik.
  2. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis.
  3. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5%
  4. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur
  5. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal.

Pengolahan Cara Basah

Tahap-tahap pengolahan cara basah terdiri dari:

a. Pengupasan Kulit Buah

b. Fermentasi

c. Pencucian

d. Pengeringan

e. Pengupasan kulit kopi

Pengolahan Cara Semi Basah

Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secara basah penuh. Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah penuh. Proses cara semi-basah juga dapat diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah secara semibasah mutunya sangat baik. Proses pengolahan secara semibasah lebih singkat dibandingkan dengan pengolahan secara basah penuh.

Tahap-tahap pengolahan biji kopi semi basah:

  1. Pengupasan kulit buah
  2. Pemeraman (fermentasi) dan Pencucian
  3. Pengeringan awal
  4. Pengupasan kulit tanduk/cangkang
  5. Pengeringan biji kopi.

Seperti produk-produk lainnya, biji kopi harus memiliki standar mutu yang diperlukan sebagai petunjuk dalam pengawasan mutu yang menjamin biji kopi agar aman dikonsumsi, dan memiliki nilai jual yang tinggi baik dari pasar lokal maupun pasar internasional. Standardisasi ini meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan. Standar ini telah dituangkan Standar Nasional Indonesia Biji kopi menurut SNI No.01-2907-1999

Pengemasan dan Penggudangan

  1. Kemasan biji kopi dengan menggunakan karung bersih dan baik, serta diberi label sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-1999). Simpan tumpukan kopi dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan kontaminasi lainnya
  2. Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen. Cat untuk label menggunakan pelarut non minyak.
  3. Gunakan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bau asing
  4. Atur tumpukan karung kopi diatas landasan kayu dan beri batas dengan dinding
  5. Monitor kondisi biji selama disimpan terhadap kondisi kadar airnya, keamanan terhadap organisme gangguan (tikus, serangga, jamur, dll) dan faktor-faktor lain yang dapat merusak kopi
  6. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggudangan adalah: kadar air, kelembaban relatif dan kebersihan gudang.
  7. Kelembaban ruangan gudang sebaiknya 70%.

Kesimpulan

Dari artikel di atas, perlu kiranya ada reformasi pengolahan biji kopi khususnya yang berasal dari Semende, agar sesuai dengan tuntutan pasar yang menginginkan  kualitas dan kuantitas  biji kopi yang bermutu tinggi, dan sebagai timbal balik dari usaha ini ganjaran harga kopi yang lebih tinggi.

Mari kita mulai sejak dini pengolahan biji kopi:

1. Memilih biji kopi yang memiliki ukuran sama, memisahkan biji kopi yang rusak/pecah/hitam/busuk

2. Memasyarakatkan SNI ini kepada semua petani kopi di Semende, terutama di tingkat petani dan toke pengumpul. Sehingga dimasa depan akan ada penawaran harga yang bisa diberikan kepada konsumen-konsumen selanjutnya.

3. Perlu kerjasama dan perlu dibentuknya koperasi yang akan menjadi pengelola utama hasil perkebunan masyarakat

WUJUDKAN SWASEMBADA PANGAN, KAB. ENDE (NTT) GANDENG SWASTA

Jumat, 4 September 2009 | 08:54 WIB

ENDE, KOMPAS.com Pemerintah Kabupaten Ende, di Flores, Nusa Tenggara Timur dalam upaya mewujudkan swasembada pangan 2012 menggandeng swasta. Pihak swasta diberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan produksi pertanian setempat.

Swasembada pangan yang ditargetkan selain beras, juga meliputi ubi kayu, jagung, maupun kacang-kacangan.

Mitra Pemerintah Kabupaten Ende dalam budidaya kedelai di Kecamatan Wewaria itu PT Karunia Ende. Dari rencana area penanaman 100 hektar (ha) yang terealisasi 80 ha.

Perjanjian yang disepakati, pihak pengusaha memberikan benih kedelai kepada petani, dan dari hasil produksi 1,5 kali benih yang didapat petani diberikan kepada pengusaha, sedangkan sisa produksi yang lain menjadi milik petani. Sebagai contoh, apabila petani mendapatkan 10 kilogram (kg) benih, maka dari hasil produksi yang wajib diberikan ke pengusaha 15 kg kedelai, sedangkan sisanya menjadi milik petani.

Menurut Urin, dari kerja sama itu diharapkan makin menarik minat swasta, sebab dengan pola ini selain petani untung, pengusaha juga untung, selain itu peran pemerintah daerah pun makin kecil, yakni sebatas memberikan pendampingan dan monitoring melalui petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL). Baca lebih lanjut

TIGA (3) GERAKAN MULTIAKTIVITAS AGRIBISNIS PENTING BAGI WILAYAH BERBASIS PERTANIAN

Gemar Membangun DesaPENGERTIAN “GEMAR
GEMAR adalah suatu gerakan bersama dari segenap pemangku kepentingan rumpun pertanian di Jawa Barat, sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan daya saing masyarakat (petani) melalui penambahan multi aktivitas agribisnis berbasis ekonomi lokal dengan model siklus tertutup, yang melibatkan peran multi stakholder dan integrasi multi sektor. Namun program ini bisa diterapkan di Kec. Semende.
1.    GEMAR merupakan salah satu solusi terobosan masyarakat Semende untuk mengakhiri keterbatasan para petani dalam hal beraktivitas (monokultur) dan memperoleh peningkatan pendapatan dari substitusi multi aktivitas;
2.    GEMAR fokus pada peningkatan daya beli, yaitu melalui pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang berorientasi kegiatan ekonomi lokal yang terintegrasi dengan perbankan dalam pendekatan skala ekonomi, siklus tertutup, peran multi stakeholder dan integrasi multi sektor

MISI “GEMAR”
Penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan dengan prinsip “Masyarakat Bekerja”
MOTO “GEMAR”
“Petani Maju Bersama Multistakeholders, Menuju Kemandirian Usaha”
FILOSOFI “GEMAR”
1.    Gerakan membangun ekonomi pertanian yang dilandasi rasa memiliki, rasa bertanggungjawab, dan rasa untuk memajukan agribisnis oleh seluruh multi stakeholders
2.    Merupakan gerakan untuk desa membangun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan daya saing petani di Kecamatan di Semende
3.    Berlandaskan Trimatra Pembangunan Pertanian

LATAR BELAKANG “GEMAR”

Latar Belakang Gemar Kec Semende

Kenyataan di lapangan, petani di Kecamatan Semende Kab. Muara Enim, masih menganut sistem monokultur. Para petani ini hanya mengandalkan hasil pertanian mereka yang satu atau dua jenis saja (beras dan atau kopi saja). Untuk itulah adanya program “GEMAR” ini bisa menjadi solusi tepat bagi permasalahan klasik petani-petani di Indonesia.

Adanya permasalahan itu petani perlu menerapkan program ini  agar pendapatan masyarakat petani lebih meningkat dan kehidupan mereka menjadi  sejahtera dan berakibat  daya beli masyarakat di Kecamatan Semende akan meningkat.

Picture3MAKSUD DAN TUJUAN
•    Melakukan rancang bangun berbagai aktivitas usaha agribisnis multi sektor dalam satu kawasan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir
•    Membangun berbagai kegiatan usaha agribisnis, yang berkaitan satu sama lain, saling menguatkan, dan menghasilkan nilai tambah, serta memiliki daya saing, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan

PRASYARAT GEMAR

  1. Berbasis Multi Stakeholder
  2. Fasilitasi SKPD terkait,  Sharing Kabupaten/Kota, Pemerintah, dan Sumber Pembiayaan dari Perbankan
  3. Berbasis Aktivitas Pertanian, Perikanan, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan, yang mengintegrasikan sektor hulu-hilir dalam kerangka agribisnis;
  4. Memiliki Lembaga Usaha Ekonomi berbasis budaya lokal;
  5. Pendekatan Sumber Daya Manusia, Budaya, Teknologi dan Spesial;
  6. Berbasis Perencanaan Partisipatif

******************************************** Baca lebih lanjut

Hasil Pertanian dan Perkebunan

HASIL – HASIL PERTANIAN

Hasil pertanian dan perkebunan daerah semende ini berupa Kopi dan Padi. Kedua komponen ini merupakan hasil andalan daerah Semende, karena sebagian besar penduduk daerah ini masih berprofesi sebagai petani. Namun dalam pengelolaan dan pengolahan hasil pertanian masih menggunakan cara-cara tradisional.

Keberadaan pertanian daerah ini sudah terkenal bahkan di luar SUMSEL. Karena hasil pertanian ini tidak kalah mutunya bila dibandingkan dengan hasil pertanian daerah lain. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi daerah lain untuk datang ke daerah ini. Karena alasan tanah yang masih subur dan suhu yang sejuk membuat para pendatang merasa nyaman bila mampir di daerah ini.