Radio komunitas “Bisa Jadi” menjadi sumber informasi paling efektif di Semende

Salam bulan ramadhan…. semoga puasa kita hari ini akan menjadikan kita sebagai orang yang bertaqwa, sebagaimana telah difirmankan dalam surat berikut ini… ya ayuhalazi na’amanu kutibaalaikum musyhiam, kama kutibaalallazi naminng koblikum la’alakum tataqun…. “hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa (dibulan ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”

Postingan kali ini saya ingin membuka opini mengenai “sumber informasi” yang berupa radio komunitas.

Beberapa tahun yang lalu sempat saya mendengar adanya beberapa anak muda dari Semende telah membangun sebuah radio komunitas yang dilatar belakangi oleh ketiadaan sumber informasi yang khusus di Semende. Saya tidak tahu persis siapa yang mempelopori kegiatan positif tersebut. Tetapi dengan berbagai alasan yang mungkin belum bisa dipecahkan, akhirnya keberadaan radio komunitas tersebut sekarang ( agustus 2012) tidak mengudara lagi. Sejatinya radio komunitas bisa menjadi sumber informasi yang sangat relevan dengan kondisi geografis Semende yang terdiri dari bukit-bukit dan lembah. Oleh karena itu bagi siapa saja yang masih memiliki keinginan untuk menghidupkan kembali keberadaan radio komunitas,  silakan mendownload proposal pengajuan dana bantuan kepada pihak yang mampu memberikan bantuan baik pihak perusahaan maupun pemerintah daerah.

Adapun keunggulan media informasi radio sebagai berikut: Baca lebih lanjut

Mari kita budayakan “mencontek”, mencontek itu baik….

Trik dan tip untuk menjadi kreatif, Cara yang paling mudah adalah “Mencontek”. Itulah fakta di lapangan…

Sebenarnya mencontek adalah perbuatan “Terpuji” dalam dunia kreatifitas. Karena mencontek adalah proses untuk membuat sesuatu yang baru. Kita bisa membaca sejarah bahwa negara Jepang dulu juga mencontek. Mereka mencontek mobil-mobil yang dibuat dari Amerika. Kemudian mereka mulai merubah sedikit-demi sedikit hasil contekannya supaya tidak sama dengan buatan Amerika. Suatu masa Jepang mencotek mobil buatan USA, sejalan dengan waktu ternyata mobil yang dibuat Amerika tidak sesuai dengan tubuh orang-orang Asia yang rata-rata lebih kecil dibanding orang Amerika/Eropa. Maka dengan kreatifitasnya Jepang membuat mobil dengan ukuran yang lebih kecil dan tentunya lebih hemat bahan bakar, dan hasilnya di Indonesia dapat kita lihat lebih banyak mobil “hasil contekan” dibandingkan mobil dari “yang diconteki” . Faktanya seperti itu kan…?? ūüôā

Kita tidak usah membahas negara China, karena tidak dibahas juga tentu pembaca sudah melihat, mendengar, dan bahkan mungkin sudah menggunakan produk-produknya. Jadi tidak perlu di bahas kembali… hehe

Mari kita buka sedikit mata dalam hal “contek-mencontek” Baca lebih lanjut

Asrama Mahasiswa Sumsel di Bandung Untuk Kita Bersama

Menindaklanjuti pengumuman yang penulis buat beberapa minggu yang lalu, melalui Milis: jeme_semende@yahoogroups.com dan di forum Facebook. Maka penulis mencoba untuk memberi gambaran mengenai kondisi asrama mahasiswa SUMSEL yang sangat cocok untuk ditempati bagi calon-calon mahasiswa dari SUMSEL, khususnya daerah Semende:
Bagi jeme Semende yang akan melanjutkan Kuliah di BANDUNG, diberitahukan:
  1. 1Ada asrama mahasiswa lokasi strategis, dekat dengan kampus: Unpas, Unpad,ITB, Unikom, Unisba, UNIBI
  2. Biaya/bulan hanya Rp. 80.000. Sudah bersih (tidak ada pembayaran listrik dan air)
  3. Laundry Hanya 50rb/bulan (bagi siapa yang mau, bagi yang mencuci sendiri tidak masalah)
  4. Makan, ada catering, 2x makan (siang dan malam) hanya 6rb/hari, Maka biaya sebulan bila kita hitung (asumsi masih 80rb/bulan, cuci di laundry,dan makan di asrama adalah):
Rp. 80.000 + 50.000 + (6rb x 30 hari) =  Rp. 310.000
Jadi, biaya perbulan hanya 310rb. Dengan fasilitas:  makan, cuci, sewa kos, sudah tidak perlu di fikirkan lagi.
Bagi Member Milis Ini tolong disampaikan kepada sanak saudara, apabila ada yang berminat kuliah di Bandung dengan Universitas tujuan seperti tercantum di atas.
Sebagai perbandingan biaya kos saat ini 3-4 jt/ tahun, sama dengan (+/-) 330rb/bulan (hanya biaya kos) belum makan, listrik, air, dan sebagainya.
Lokasi: berdekatan dengan pasca sarjana Unisba
Keuntungan: Lebih Murah, Wireless Gratis, Dekat dengan pusat kota (BIP,BEC,dll), Pergaulan Baik-baik, ada TV, Kulkas, Dapur Umum, WC dan Kamar mandi ada 2bh)
Silakan hitung2 kembali, apabila saudara-saudara memutuskan kuliah di bandung, atau di Palembang, atau di jakarta. Murahan mana, dg kualitas pendidikan yang tidak jauh beda.
(yg berminat dan serius bisa menghubungi telpon di atas)
 

Menuju Kopi Semende Ber-SNI (Sertifikat Nasional Indonesia)

Artikel ini adalah artikel awal mengenai pengelolaan tanaman kopi di Semende. Artikel ini bukanlah sebuah tutorial yang “mengajari” cara mengolah kopi, karena sebagian besar masyarakat Semende berprofesi sebagai petani kopi, tentu lebih ahli dan lebih mahir tentang urusan kopi/kawe dibanding penulis sendiri. Namun, karena ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui, sudah seharusnya informasi ini disebarluaskan. Sehingga harapan penulis, artikel sederhana ini bisa menjadi awal ‚ÄĚreformasi‚ÄĚ pengolahan kopi khususnya di wilayah Semende sehingga memiliki nilai lebih dimasa yang akan datang.

Jenis Kopi yang Banyak Dikembangkan Di Dunia

Tanaman kopi adalah Pohon kecil yg bernama Purpugenus Coffea Dari famili Rubiaceae. Tanaman Kopi, yang umumnya Berasal dari benua Afrika, termasuk famili Rubiaceae dan jenis kelamin Coffea. Kopi dibagi menjadi 4 kelompok besar

a)       Coffea Canephora, yang salah satu jenis varietasnya menghasilkan kopi dagang Robusta;

b)      Coffea Arabica Menghasilkan Kopi Dagang Arabica

c)       Coffea Excelsa menghasilkan kopi Dagang Excelsa

d)       Coffea Liberica Menghasilkan Kopi dagang Liberica

Kuantitas Kopi yang Paling Banyak di Pasaran

Berdasarkan jenis kualitas & kuantitas, Kopi arabika Memiliki andil 70% Pasokan Kopi Dunia Sedangkan Robusta mengambil Bagian 24%, Liberica & Excelsa Masing-masing 3%. Arabica Dianggap lebih baek dari pada Robusta karma Rasa nya Lebih enak & Jumlah Kafein nya Lebih Rendah sebab itu Harga Kopi Arabica Lebih Mahal dari pada Robusta.

Pengolahan Kopi Di Dunia

Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus dihindari terjadinya kontaminasi dari beberapa hal yaitu :

  1. Fisik (tercampur dengan benda asing selain kopi, misalnya: rambut, kotoran, dll);
  2. Kimia (tercampur bahan-bahan kimia);
  3. Biologi (tercampur jasad renik yang bisa berasal dari pekerja yang sakit, kotoran/sampah di sekitar yang membusuk)

Secara umum pengolahan kopi di dunia dibagi menjadi tiga cara pengolahan biji kopi yaitu pengolahan kering, pengolahan basah, dan pengolahan semi basah.

Pengolahan Cara Kering

Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan di tingkat petani karena mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani. Tahap-tahap pengolahan kopi cara kering Pengeringan

  1. Kopi yang sudah dipetik dan disortasi (dipilih) harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik.
  2. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis.
  3. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5%
  4. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur
  5. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal.

Pengolahan Cara Basah

Tahap-tahap pengolahan cara basah terdiri dari:

a. Pengupasan Kulit Buah

b. Fermentasi

c. Pencucian

d. Pengeringan

e. Pengupasan kulit kopi

Pengolahan Cara Semi Basah

Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secara basah penuh. Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah penuh. Proses cara semi-basah juga dapat diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah secara semibasah mutunya sangat baik. Proses pengolahan secara semibasah lebih singkat dibandingkan dengan pengolahan secara basah penuh.

Tahap-tahap pengolahan biji kopi semi basah:

  1. Pengupasan kulit buah
  2. Pemeraman (fermentasi) dan Pencucian
  3. Pengeringan awal
  4. Pengupasan kulit tanduk/cangkang
  5. Pengeringan biji kopi.

Seperti produk-produk lainnya, biji kopi harus memiliki standar mutu yang diperlukan sebagai petunjuk dalam pengawasan mutu yang menjamin biji kopi agar aman dikonsumsi, dan memiliki nilai jual yang tinggi baik dari pasar lokal maupun pasar internasional. Standardisasi ini meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan. Standar ini telah dituangkan Standar Nasional Indonesia Biji kopi menurut SNI No.01-2907-1999

Pengemasan dan Penggudangan

  1. Kemasan biji kopi dengan menggunakan karung bersih dan baik, serta diberi label sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-1999). Simpan tumpukan kopi dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan kontaminasi lainnya
  2. Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen. Cat untuk label menggunakan pelarut non minyak.
  3. Gunakan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bau asing
  4. Atur tumpukan karung kopi diatas landasan kayu dan beri batas dengan dinding
  5. Monitor kondisi biji selama disimpan terhadap kondisi kadar airnya, keamanan terhadap organisme gangguan (tikus, serangga, jamur, dll) dan faktor-faktor lain yang dapat merusak kopi
  6. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggudangan adalah: kadar air, kelembaban relatif dan kebersihan gudang.
  7. Kelembaban ruangan gudang sebaiknya 70%.

Kesimpulan

Dari artikel di atas, perlu kiranya ada reformasi pengolahan biji kopi khususnya yang berasal dari Semende, agar sesuai dengan tuntutan pasar yang menginginkan  kualitas dan kuantitas  biji kopi yang bermutu tinggi, dan sebagai timbal balik dari usaha ini ganjaran harga kopi yang lebih tinggi.

Mari kita mulai sejak dini pengolahan biji kopi:

1. Memilih biji kopi yang memiliki ukuran sama, memisahkan biji kopi yang rusak/pecah/hitam/busuk

2. Memasyarakatkan SNI ini kepada semua petani kopi di Semende, terutama di tingkat petani dan toke pengumpul. Sehingga dimasa depan akan ada penawaran harga yang bisa diberikan kepada konsumen-konsumen selanjutnya.

3. Perlu kerjasama dan perlu dibentuknya koperasi yang akan menjadi pengelola utama hasil perkebunan masyarakat

SAPOET BENTE RIWAYATMOE KINI

Tahun 1980 an.  Syahdan terdengarlah satu kisah yang berasal dari satu daerah yang sangaaat jauh, badahnye di bawah bukit ijang, udaranya dingin menusuk tulang, maka masyarakat daerah itu punya kerajinan yang tidak dimiliki oleh daerah lain DI Indonesia bahkan di Dunia, nama kerajinan itu adalah mbuat SAPUT BENTE. Sebenarnya tidaklah terlalu sulit membuat saput bente. Dalamnya adalah karung Goni (kalau mau Tebal) lalu di tambal dengan berbagai  cepiran kain atau bekas potongan-potongan  kain. Jarum untuk menjahitnya pun harus spesial namanya adalah JAGHUM BENTE. Cukup besar untuk ukuran sebuah jarum.

Tebal tipis ukuran saput bente tergantung selera pemakai, ada yang sedang-sedang saja, ada yang super, artinya ketika seseorang tidur dia tidak dapat begerak lagi saking beratnya  saput bente made in sendiri tadi. Karena saput bente ini tidak diproduksi untuk ekspor jadi ukuran, corak dan warnanya tidak ditentukan, dan satu lagi keuntungan dari saput bente ini kita bisa memelihara KEPINDING (You Know kepinding?) Jenis binatang kecil beraroma cukup WAH untuk membuat kepala puyeng-puyeng jika mencium aromanya, kalau kita sedang tidur  berselimut bente tadi binatang ini suka menggelitik-gelitik bagian tubuh kita, akibatnya tubuh kita benjol-benjol dan merah-merah pada keesokan harinya. Habitat binatang ini adalah lipatan-lipatan yang terdapat  pada saput bente tadi, semakin banyak lipatan-lipatan biasanya semakin banyak  apik jurai kepinding dalam Saput Bente tersebut.

Tahun 2010,¬† Syahdan terdengarlah kabar “gembira” dari negeri yang jauh dibawah bukit ijang itu..Bahwa kini bukit sudah tidak ijang lagi, sudah berwarna warni, tukak disana gundul disini, masyarakatnya sudah melupakan kepinding penghias bente, besar kecil, tue mude, jande rande, sudah keranjingan dengan teknologi, ke sawah dan ke kebun, besiang atau njawat¬† sudah mengantongi tuyul (istilah jeme negeri bawah bukit untuk menyebut Hand Phone)¬† kadang lupa kerja karena sibuk bermain PISSBUUK. Tak ada lagi kerajinan mbuat bente, kepindingpun telah hengkang tersengat aliran listrik bertenaga panas bumi (Geothermal di Tanjung Laut dan Rantau Dedap) Penduduknya sudah semakin pintar, ada yang benar-benar pintar, ada yang pintar mbohongi rakyat, ada LSM yang cari lokak, karena mereka memplesetkan LSM dengan Lokak Senang Maju, Lokak Susah Mundur, ada yang semakin pintar musiman alias ngijon alias lintah darat¬† alias memeras orang ketika paceklik datang seperti sekarang. Dan ada-ada saja‚Ķ.

Negeri bawah bukit itu kini telah memulai peradaban baru. Baru untuk ukuran keduniaan, berbagai fasilitas masuk tak terbendung yang membuat anak-anak dan generasi muda malas ke langgar dan belajar mengaji..Oleh pemerintah didirikanlah puluhan sekolah-sekolah negeri tanpa diimbangi dengan pendirian madrsah dan sekolah-sekolah agama alasannya juge klise lain departemen,   dan tidak mustahil, tahun 2020 nanti. Tak terdengar lagi anak-anak dan orang muda yang bisa mengaji.

Negeri bawah bukit yang dulu tertinggal secara peradaban dunia namun terdepan dalam urusan agama akan terbalik, dahulu ketika masih terdapat banyak ulama dan fatwa mereka masih didengar karena bersesuaian dengan adat bisa jadi juga akan menjadi kebalikannya. Dahulu ketika ada yang hamil sebelum menikah menjadi aib dan nista tidak harus menunggu 2020 sekarang sudah menjadi lumrah. Dahulu…dahulu..dan dahuluu.. Maka orang muda akan bilang itu dulu, sekarang zaman sudah  maju..
Salam dari negeri bawah bukit

Oleh: Bapang Abigael

bapangabigael@yahoo.co.id

Referensi Ilustrasi: 1,2

Dibutuhkan 10.000 Sang Pemimpi di Semende

Dalam cerita Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal- alter egon Andrea Hirata, sedangkan Arai adalah saudara jauh yang yatim piatu yang disebut “simpai keramatLanjutkan

=============*******************===========

Awal mulanya Ikal  adalah anak seorang anak kuli bangunan PT.Timah di Belitung, dia memiliki teman yang merupakan saudara jauhnya yang sudah yatim piatu yang bernama Arai.  Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Arai bermimpi untuk mewujudkan cita-citanya belajar di negeri Napoleon Bonaparte, Prancis.

Melihat kondisi kehidupan Ikal dan Arai waktu kecil, adalah suatu kemustahilan untuk mewujudkan cita-cita besarnya belajar ke Prancis. Karena baik Arai maupun Ikal adalah anak-anak Kampung, Miskin, dan tinggal di pedalaman pulau Belitung yang jauh dari kondisi akademis yang bisa menunjang  mimpi mereka.

Namun, dilatarbelakangi oleh mimpi yang besar, gairah hidup yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita mereka, maka setahap demi setahap halangan dan rintangan mampu mereka lalui dengan sukses.

Kesuksesan yang mereka impikan, tidak dijalani dengan mudah. Penuh lika-liku ujian yang terkadang membuat mereka berputus asa. Mereka hidup bagaikan alir mengalir, mereka jalani semua proses-proses manusiawi, bekerja, belajar, naksir perempuan yang mereka sukai, mereka menangis, mereka terkadang melawan dengan orang-orang yang terkadang mencintai mereka dan bahkan mereka juga terkadang gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun semua yang dilakukan itu adalah proses dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.

Mereka memiliki mimpi, yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan roda energi dalam tubuh mereka yang terhalang oleh “tirai-tirai kemustahilan” yang harus mereka hancurkan dengan kristal-kristal keringat, dan bahkan air mata.

Menilik kehidupan masa kecil mereka, masa-masa dimana pribadi-pribadi baja mereka terbentuk, maka tida ada salahnya kita menoleh ke belakang dimana kita dibesarkan, dimana kita dilahirkan dengan segala keterbatasan yang ada, bahkan bagian dari kehidupan masa kecil kita tidak jauh kondisinya dengan kondisi mereka yang terpinggirkan oleh sistem, terpatahkan oleh ketiadaan  akan materi, dan kadang tersingkirkan oleh karena kita tidak memiliki jabatan dalam suatu pemerintahan, maka seyogyanyalah kita untuk bangkit  dan berlari mengejar mimpi-mimpi kita yang sangat membara dalam dada dan sanubari kita.

“Tak akan ada yang bisa merubah nasib kita tanpa kita mengubahnya sendiri. Tak ada cita-cita besar yang berhasil dengan¬† “kundu”¬† kecil”

Karena memang sudah hukum alam, atau memang digariskan oleh Allah SWT bahwa sesuatu yang besar harus ditopang dan dijalankan dengan energi dan jiwa yang besar. Darimana jiwa dan energi yang besar itu dilahirkan…??¬† Jawabnya ada di dalam dada kita, dalam fikiran kita, dan hal itu harus ditopang dengan jiwa yang berani meraih resiko yang terbesar sekalipun. Baca lebih lanjut

Andaikan Abang Jadi Bupati Dairi

Sebuah Obrolan Singkat Batak Post dengan Seorang Guru Etos (Jansen Sinamo)

Keynote: Cari ilmu meski ke negara China, Liat Maksudnya, Liat Etosnya ūüôā Selamat membaca

“Bang, andaikan Abang jadi Bupati Dairi, apa program Abang memajukan Dairi?” demikian wartawan Batak Pos itu memulai wawancaranya beberapa bulan lalu di kantorku.

“SDM,” jawabku to the point.

“Apa???” sergahnya. Ia tampak kaget.

Es-de-em, sum-ber–da- ya–ma-nu- si-a,” kataku dengan sabar, suara lebih keras dan lambat.

“Kenapa kok itu, Bang.”

Begini. Dari zaman dulu hingga kini produk Dairi paling utama adalah SDM; bukan kopi, bukan nilam, bukan jagung, bukan cabe, apalagi parawisata.

Si wartawan seperti limbung, terdiam. Lalu kuteruskan ceramahku…

“Satu tokoh yang membuat Dairi itu harum adalah L. Manik. Dia mewariskan ‘Satu Nusa Satu Bangsa‘ buat Indonesia. Dan lagu itu akan abadi. Selama Indonesia masih ada di bumi lagu itu akan terus dikumandangkan dengan takzim, penuh getar, dan rasa cinta buat negeri ini. Kau hargai dengan berapa ratus ton kopi Sidikalang lagu yang satu itu?” serbuku menggebu-gebu.

“Tak ternilailah, Bang.” katanya seperti sudah menangkap seluruh maksudku.

“Dan itu baru satu lagu lho. Belum lagi ‘Desaku yang Kucinta‘.” “Kau tahu Jenderal TB Simatupang kan?” gantian aku yang bertanya.

“Tahulah, Bang; emang dia orang Dairi?” katanya setengah kaget.

“Ya, iyalah. Dia itu lahir di Sidikalang tanggal 28 Januari 1920.” ujarku dengan mantap karena sudah merasa di atas angin. Tanggal ini kebetulan kuhafal betul karena waktu peresmian monumennya yang di Letter S, Sitinjo, itu dulu aku yang ditugasi panitia menulis riwayat [singkat] hidupnya.

“Dialah jenderal yang orang Batak paling hebat. Pada umur 29 tahun dia sudah jadi Kepala Staf Angkatan Perang dengan pangkat jenderal mayor. Dan dia bukan jenderal jenis Nagabonar ya. Dialah otak TNI di masa awal kemerdekaan kita. Dia itu arsitek pembangunan TNI. Dari tangannyalah lahir doktrin Sapta Marga yang menjadi sendi TNI hingga kini.” kataku tambah bersemangat.

“Tapi maaf ya, Bang; perbandingan Abang tidak ‘apple to apple‘ — maksud saya, secara ekonomis, kan kedua tokoh itu tidak ada artinya apa-apa buat Dairi. Membangun Dairi maksud saya membangun secara ekonomis, Bang.” Baca lebih lanjut