Resensi Film Pengejar Angin “Dapunta”

Film teranyar karya sutradara muda Hanung Bramantyo berkisah mengenai perjuangan seorang anak di daerah “Lahat” Sumatera Selatan dalam usahanya meraih cita-cita.

Dapunta, begitu namanya dipanggil, nama tersebut adalah nama seorang tokoh legendaris masyarakat Sumatera Selatan yang dipercaya sebagai pendiri kerajaan Sriwijaya.

Dapunta adalah seorang anak Bajing Loncat “Perampok Besar” di daerah Lahat, Sumatera Selatan. Sebagai seorang anak Bajing Loncat, Sang Bapak menginginkan anaknya meneruskan profesinya sebagai kepala perampok.

Tetapi nasib berkata lain, sang anak memiliki mimpi yang harus dia kejar, dia ingin mengejar mimpi secepat larinya.

Sebagai  putra seorang perampok dan lingkungan yang tidak mendukung, tentu saja dia menemui banyak hambatan untuk mewujudkan cita-citanya, Dapunta menjadi terpinggirkan. Padahal bakat kecerdasan, dan bakat atletik sudah mendarah daging di tubuhnya.

Dibantu oleh NYIMAS (teman dekatnya), Pak DAMAR, seorang guru muda berbakat yang melihat potensi yang tak terbatas dari Dapunta, dan juga Husni sahabatnya, Dapunta pun mulai mengejar mimpinya.

Jenis Film : Drama
Produser: H. Dhoni Ramadhan
Produksi: Putaar Production + Pemprov. Sumsel
Dengan dukungan pemain-pemain kawakan, dan berpengalaman, maka film ini Sangat disarankan untuk ditonton bersama keluarga.
Berikut Nama-Nama Pemeran Utama Dari Film ini:
  1. Mathias Muchus
  2. Wanda Hamidah
  3. Lukman Sardi
  4. Agus Kuncoro
  5. Qausar Harta Yudana
  6. Siti Helda Meilita
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Ben Sihombing

Lalu apa yang membuat film ini “harus” ditonton, khususnya “jeme semende dan sekitarnye” karena ini adalah sebuah film yang diangkat dari Sumatera Selatan, khususnya daerah Muara Enim, Lahat, Pagar Alam, Palembang. Berikut dengan keindahan alam daerah kita yang menurut saya sangat cantik dan mengagumkan.

Hempasan gemericik pantulan air dari curup tenang, hembusan udara perbukitan dan pengunungan yang menentramkan, suasana perkampungan yang menawarkan kepolosan warganya, sungguh menjadi cuplikan sebuah kehidupan yang damai di ujung sana.

Ya…. itulah sedikit deskripsi daerah kami, daerah pemilik blog ini, daerah yang masih ‘asri’ dan dialek yang kental yang terkenal dengan sebutan “bahasa besemah” disitulah kami lahir dan besar, disitulah tumpah darah kami pertama kali di dunia ini.

Lihat di sana… ada air terjun curup tenang, begitu indah menanti anda…. datanglah dan saksikan sendiri hempasan butir-butir air menerpa wajah ayu anda, wajah tampan anda, semoga kepenatan anda menjadi hilang dalam kerindangan pepohonan kopi dan jati yang berjejer di dekat air terjun tersebut….. Ajaklah anak-anak anda, berikan mereka kesan keindahan alam Nusantara Indonesia yang tiada duanya di  dunia.

Lihat kembali ke atas bukitnya…. anda akan temukan perkebunan kopi yang menjadi produk paling tren di desa kami, begitu anda sampai di desa kami, silakan anda beristirahat dengan nyaman terlebih dahulu di sebuah masjid di kampung  kami, kami akan senang menyapa anda.

Lihat juga bukit tunjuk, gunung Dempo di Pagar Alam, rasakan hawa pegunungan akan menyapa anda dengan ramah.

Itulah negeri kita, negeri para “Dapunta” wilayah Sumatera…

Anda mau ke daerah kami, hanya +/- 90 km dari ibukota Sumsel (Palembang), bisa dicapai dengan alat angkutan umum, ataupun dengan angkutan pribadi.  Ketika anda mau menggunakan angkutan travel, hanya membayar Rp. 70rb saja, anda akan kami antar ke daerah kami.

Begitu indahnya alam Indonesia, begitu bangganya saya menjadi penduduk Indonesia, terutama daerah Sumatera Selatan.

Curup Tenang

Salah Satu Tempat Dapunta Shooting Film

Baca lebih lanjut

Puluhan Hektare Sawah Terancam Kekeringan di Pajar Bulan Semende

Muara Enim, Pajar Bulan SDU– Bangunan irigasi Air Bantingan, Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semende Darat Ulu, Muara Enim,  Rabu malam (9/11) longsor sepanjang 17 meter, sehingga mengakibatkan puluhan hektare sawah terancam kekeringan.

Informasi yang dihimpun, berawal pada  Rabu (9/11) petang  terjadi  hujan deras yang melanda desa tersebut yang mengakibatkan debit air melimpah masuk ke dalam irigasi.

Kondisi irigasi yang masih terbuat dari tanah tersebut tidak kuat menampung beban air yang masuk, sehingga irigasi amblas sepanjang 17 meter dengan kedalam 2 meter.

Menurut Kepala Desa Pajar Bulan Muflih, yang dihubungi Kamis(11/11), jika tidak segera dilakukan perbaikan, longsornya  irigasi tersebut membuat 37 hektar sawah terancam kekeringan dan dan tidak bisa digarap. Warga juga kesulitan mendapatkan air untuk mandi dan mencuci.

“Warga  desa telah  di kerahkan untuk membuat dinding sementara guna mengalirkan air. Tetapi karena masih musim hujan dikhawatirkan dinding buatan itu  tidak kuat dan longsor lagi, sehingga menimbulkan longsor yang lebih besar. Kami berharap pemerintah segera melakukan perbaikan dengan membangun irigasi yang permanen dari beton,” tambah Muflin.(Sahar)

Artikel Kiriman: khairul_amri67@yahoo.co.id
Sumber Berita: kabarserasan.com, Sumber Gbr Ilustrasi: suaramerdeka.com
 

Asrama Mahasiswa Sumsel di Bandung Untuk Kita Bersama

Menindaklanjuti pengumuman yang penulis buat beberapa minggu yang lalu, melalui Milis: jeme_semende@yahoogroups.com dan di forum Facebook. Maka penulis mencoba untuk memberi gambaran mengenai kondisi asrama mahasiswa SUMSEL yang sangat cocok untuk ditempati bagi calon-calon mahasiswa dari SUMSEL, khususnya daerah Semende:
Bagi jeme Semende yang akan melanjutkan Kuliah di BANDUNG, diberitahukan:
  1. 1Ada asrama mahasiswa lokasi strategis, dekat dengan kampus: Unpas, Unpad,ITB, Unikom, Unisba, UNIBI
  2. Biaya/bulan hanya Rp. 80.000. Sudah bersih (tidak ada pembayaran listrik dan air)
  3. Laundry Hanya 50rb/bulan (bagi siapa yang mau, bagi yang mencuci sendiri tidak masalah)
  4. Makan, ada catering, 2x makan (siang dan malam) hanya 6rb/hari, Maka biaya sebulan bila kita hitung (asumsi masih 80rb/bulan, cuci di laundry,dan makan di asrama adalah):
Rp. 80.000 + 50.000 + (6rb x 30 hari) =  Rp. 310.000
Jadi, biaya perbulan hanya 310rb. Dengan fasilitas:  makan, cuci, sewa kos, sudah tidak perlu di fikirkan lagi.
Bagi Member Milis Ini tolong disampaikan kepada sanak saudara, apabila ada yang berminat kuliah di Bandung dengan Universitas tujuan seperti tercantum di atas.
Sebagai perbandingan biaya kos saat ini 3-4 jt/ tahun, sama dengan (+/-) 330rb/bulan (hanya biaya kos) belum makan, listrik, air, dan sebagainya.
Lokasi: berdekatan dengan pasca sarjana Unisba
Keuntungan: Lebih Murah, Wireless Gratis, Dekat dengan pusat kota (BIP,BEC,dll), Pergaulan Baik-baik, ada TV, Kulkas, Dapur Umum, WC dan Kamar mandi ada 2bh)
Silakan hitung2 kembali, apabila saudara-saudara memutuskan kuliah di bandung, atau di Palembang, atau di jakarta. Murahan mana, dg kualitas pendidikan yang tidak jauh beda.
(yg berminat dan serius bisa menghubungi telpon di atas)
 

Menuju Kopi Semende Ber-SNI (Sertifikat Nasional Indonesia)

Artikel ini adalah artikel awal mengenai pengelolaan tanaman kopi di Semende. Artikel ini bukanlah sebuah tutorial yang “mengajari” cara mengolah kopi, karena sebagian besar masyarakat Semende berprofesi sebagai petani kopi, tentu lebih ahli dan lebih mahir tentang urusan kopi/kawe dibanding penulis sendiri. Namun, karena ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diketahui, sudah seharusnya informasi ini disebarluaskan. Sehingga harapan penulis, artikel sederhana ini bisa menjadi awal ”reformasi” pengolahan kopi khususnya di wilayah Semende sehingga memiliki nilai lebih dimasa yang akan datang.

Jenis Kopi yang Banyak Dikembangkan Di Dunia

Tanaman kopi adalah Pohon kecil yg bernama Purpugenus Coffea Dari famili Rubiaceae. Tanaman Kopi, yang umumnya Berasal dari benua Afrika, termasuk famili Rubiaceae dan jenis kelamin Coffea. Kopi dibagi menjadi 4 kelompok besar

a)       Coffea Canephora, yang salah satu jenis varietasnya menghasilkan kopi dagang Robusta;

b)      Coffea Arabica Menghasilkan Kopi Dagang Arabica

c)       Coffea Excelsa menghasilkan kopi Dagang Excelsa

d)       Coffea Liberica Menghasilkan Kopi dagang Liberica

Kuantitas Kopi yang Paling Banyak di Pasaran

Berdasarkan jenis kualitas & kuantitas, Kopi arabika Memiliki andil 70% Pasokan Kopi Dunia Sedangkan Robusta mengambil Bagian 24%, Liberica & Excelsa Masing-masing 3%. Arabica Dianggap lebih baek dari pada Robusta karma Rasa nya Lebih enak & Jumlah Kafein nya Lebih Rendah sebab itu Harga Kopi Arabica Lebih Mahal dari pada Robusta.

Pengolahan Kopi Di Dunia

Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus dihindari terjadinya kontaminasi dari beberapa hal yaitu :

  1. Fisik (tercampur dengan benda asing selain kopi, misalnya: rambut, kotoran, dll);
  2. Kimia (tercampur bahan-bahan kimia);
  3. Biologi (tercampur jasad renik yang bisa berasal dari pekerja yang sakit, kotoran/sampah di sekitar yang membusuk)

Secara umum pengolahan kopi di dunia dibagi menjadi tiga cara pengolahan biji kopi yaitu pengolahan kering, pengolahan basah, dan pengolahan semi basah.

Pengolahan Cara Kering

Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan di tingkat petani karena mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani. Tahap-tahap pengolahan kopi cara kering Pengeringan

  1. Kopi yang sudah dipetik dan disortasi (dipilih) harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu diaduk terdengar bunyi gemerisik.
  2. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis.
  3. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5%
  4. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur
  5. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal.

Pengolahan Cara Basah

Tahap-tahap pengolahan cara basah terdiri dari:

a. Pengupasan Kulit Buah

b. Fermentasi

c. Pencucian

d. Pengeringan

e. Pengupasan kulit kopi

Pengolahan Cara Semi Basah

Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan citarasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secara basah penuh. Ciri khas kopi yang diolah secara semi-basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi Arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi olah basah penuh. Proses cara semi-basah juga dapat diterapkan untuk kopi Robusta. Secara umum kopi yang diolah secara semibasah mutunya sangat baik. Proses pengolahan secara semibasah lebih singkat dibandingkan dengan pengolahan secara basah penuh.

Tahap-tahap pengolahan biji kopi semi basah:

  1. Pengupasan kulit buah
  2. Pemeraman (fermentasi) dan Pencucian
  3. Pengeringan awal
  4. Pengupasan kulit tanduk/cangkang
  5. Pengeringan biji kopi.

Seperti produk-produk lainnya, biji kopi harus memiliki standar mutu yang diperlukan sebagai petunjuk dalam pengawasan mutu yang menjamin biji kopi agar aman dikonsumsi, dan memiliki nilai jual yang tinggi baik dari pasar lokal maupun pasar internasional. Standardisasi ini meliputi definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan. Standar ini telah dituangkan Standar Nasional Indonesia Biji kopi menurut SNI No.01-2907-1999

Pengemasan dan Penggudangan

  1. Kemasan biji kopi dengan menggunakan karung bersih dan baik, serta diberi label sesuai dengan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-1999). Simpan tumpukan kopi dalam gudang yang bersih, bebas dari bau asing dan kontaminasi lainnya
  2. Karung diberi label yang menunjukkan jenis mutu dan identitas produsen. Cat untuk label menggunakan pelarut non minyak.
  3. Gunakan karung yang bersih dan jauhkan dari bau-bau asing
  4. Atur tumpukan karung kopi diatas landasan kayu dan beri batas dengan dinding
  5. Monitor kondisi biji selama disimpan terhadap kondisi kadar airnya, keamanan terhadap organisme gangguan (tikus, serangga, jamur, dll) dan faktor-faktor lain yang dapat merusak kopi
  6. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penggudangan adalah: kadar air, kelembaban relatif dan kebersihan gudang.
  7. Kelembaban ruangan gudang sebaiknya 70%.

Kesimpulan

Dari artikel di atas, perlu kiranya ada reformasi pengolahan biji kopi khususnya yang berasal dari Semende, agar sesuai dengan tuntutan pasar yang menginginkan  kualitas dan kuantitas  biji kopi yang bermutu tinggi, dan sebagai timbal balik dari usaha ini ganjaran harga kopi yang lebih tinggi.

Mari kita mulai sejak dini pengolahan biji kopi:

1. Memilih biji kopi yang memiliki ukuran sama, memisahkan biji kopi yang rusak/pecah/hitam/busuk

2. Memasyarakatkan SNI ini kepada semua petani kopi di Semende, terutama di tingkat petani dan toke pengumpul. Sehingga dimasa depan akan ada penawaran harga yang bisa diberikan kepada konsumen-konsumen selanjutnya.

3. Perlu kerjasama dan perlu dibentuknya koperasi yang akan menjadi pengelola utama hasil perkebunan masyarakat

SAPOET BENTE RIWAYATMOE KINI

Tahun 1980 an.  Syahdan terdengarlah satu kisah yang berasal dari satu daerah yang sangaaat jauh, badahnye di bawah bukit ijang, udaranya dingin menusuk tulang, maka masyarakat daerah itu punya kerajinan yang tidak dimiliki oleh daerah lain DI Indonesia bahkan di Dunia, nama kerajinan itu adalah mbuat SAPUT BENTE. Sebenarnya tidaklah terlalu sulit membuat saput bente. Dalamnya adalah karung Goni (kalau mau Tebal) lalu di tambal dengan berbagai  cepiran kain atau bekas potongan-potongan  kain. Jarum untuk menjahitnya pun harus spesial namanya adalah JAGHUM BENTE. Cukup besar untuk ukuran sebuah jarum.

Tebal tipis ukuran saput bente tergantung selera pemakai, ada yang sedang-sedang saja, ada yang super, artinya ketika seseorang tidur dia tidak dapat begerak lagi saking beratnya  saput bente made in sendiri tadi. Karena saput bente ini tidak diproduksi untuk ekspor jadi ukuran, corak dan warnanya tidak ditentukan, dan satu lagi keuntungan dari saput bente ini kita bisa memelihara KEPINDING (You Know kepinding?) Jenis binatang kecil beraroma cukup WAH untuk membuat kepala puyeng-puyeng jika mencium aromanya, kalau kita sedang tidur  berselimut bente tadi binatang ini suka menggelitik-gelitik bagian tubuh kita, akibatnya tubuh kita benjol-benjol dan merah-merah pada keesokan harinya. Habitat binatang ini adalah lipatan-lipatan yang terdapat  pada saput bente tadi, semakin banyak lipatan-lipatan biasanya semakin banyak  apik jurai kepinding dalam Saput Bente tersebut.

Tahun 2010,  Syahdan terdengarlah kabar “gembira” dari negeri yang jauh dibawah bukit ijang itu..Bahwa kini bukit sudah tidak ijang lagi, sudah berwarna warni, tukak disana gundul disini, masyarakatnya sudah melupakan kepinding penghias bente, besar kecil, tue mude, jande rande, sudah keranjingan dengan teknologi, ke sawah dan ke kebun, besiang atau njawat  sudah mengantongi tuyul (istilah jeme negeri bawah bukit untuk menyebut Hand Phone)  kadang lupa kerja karena sibuk bermain PISSBUUK. Tak ada lagi kerajinan mbuat bente, kepindingpun telah hengkang tersengat aliran listrik bertenaga panas bumi (Geothermal di Tanjung Laut dan Rantau Dedap) Penduduknya sudah semakin pintar, ada yang benar-benar pintar, ada yang pintar mbohongi rakyat, ada LSM yang cari lokak, karena mereka memplesetkan LSM dengan Lokak Senang Maju, Lokak Susah Mundur, ada yang semakin pintar musiman alias ngijon alias lintah darat  alias memeras orang ketika paceklik datang seperti sekarang. Dan ada-ada saja….

Negeri bawah bukit itu kini telah memulai peradaban baru. Baru untuk ukuran keduniaan, berbagai fasilitas masuk tak terbendung yang membuat anak-anak dan generasi muda malas ke langgar dan belajar mengaji..Oleh pemerintah didirikanlah puluhan sekolah-sekolah negeri tanpa diimbangi dengan pendirian madrsah dan sekolah-sekolah agama alasannya juge klise lain departemen,   dan tidak mustahil, tahun 2020 nanti. Tak terdengar lagi anak-anak dan orang muda yang bisa mengaji.

Negeri bawah bukit yang dulu tertinggal secara peradaban dunia namun terdepan dalam urusan agama akan terbalik, dahulu ketika masih terdapat banyak ulama dan fatwa mereka masih didengar karena bersesuaian dengan adat bisa jadi juga akan menjadi kebalikannya. Dahulu ketika ada yang hamil sebelum menikah menjadi aib dan nista tidak harus menunggu 2020 sekarang sudah menjadi lumrah. Dahulu…dahulu..dan dahuluu.. Maka orang muda akan bilang itu dulu, sekarang zaman sudah  maju..
Salam dari negeri bawah bukit

Oleh: Bapang Abigael

bapangabigael@yahoo.co.id

Referensi Ilustrasi: 1,2

Dibutuhkan 10.000 Sang Pemimpi di Semende

Dalam cerita Sang Pemimpi, Andrea Hirata bercerita tentang kehidupan ketika masa-masa SMA. Tiga tokoh utamanya adalah Ikal, Arai dan Jimbron. Ikal- alter egon Andrea Hirata, sedangkan Arai adalah saudara jauh yang yatim piatu yang disebut “simpai keramatLanjutkan

=============*******************===========

Awal mulanya Ikal  adalah anak seorang anak kuli bangunan PT.Timah di Belitung, dia memiliki teman yang merupakan saudara jauhnya yang sudah yatim piatu yang bernama Arai.  Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Arai bermimpi untuk mewujudkan cita-citanya belajar di negeri Napoleon Bonaparte, Prancis.

Melihat kondisi kehidupan Ikal dan Arai waktu kecil, adalah suatu kemustahilan untuk mewujudkan cita-cita besarnya belajar ke Prancis. Karena baik Arai maupun Ikal adalah anak-anak Kampung, Miskin, dan tinggal di pedalaman pulau Belitung yang jauh dari kondisi akademis yang bisa menunjang  mimpi mereka.

Namun, dilatarbelakangi oleh mimpi yang besar, gairah hidup yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita mereka, maka setahap demi setahap halangan dan rintangan mampu mereka lalui dengan sukses.

Kesuksesan yang mereka impikan, tidak dijalani dengan mudah. Penuh lika-liku ujian yang terkadang membuat mereka berputus asa. Mereka hidup bagaikan alir mengalir, mereka jalani semua proses-proses manusiawi, bekerja, belajar, naksir perempuan yang mereka sukai, mereka menangis, mereka terkadang melawan dengan orang-orang yang terkadang mencintai mereka dan bahkan mereka juga terkadang gagal mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Namun semua yang dilakukan itu adalah proses dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka.

Mereka memiliki mimpi, yang menjadi bahan bakar untuk menggerakkan roda energi dalam tubuh mereka yang terhalang oleh “tirai-tirai kemustahilan” yang harus mereka hancurkan dengan kristal-kristal keringat, dan bahkan air mata.

Menilik kehidupan masa kecil mereka, masa-masa dimana pribadi-pribadi baja mereka terbentuk, maka tida ada salahnya kita menoleh ke belakang dimana kita dibesarkan, dimana kita dilahirkan dengan segala keterbatasan yang ada, bahkan bagian dari kehidupan masa kecil kita tidak jauh kondisinya dengan kondisi mereka yang terpinggirkan oleh sistem, terpatahkan oleh ketiadaan  akan materi, dan kadang tersingkirkan oleh karena kita tidak memiliki jabatan dalam suatu pemerintahan, maka seyogyanyalah kita untuk bangkit  dan berlari mengejar mimpi-mimpi kita yang sangat membara dalam dada dan sanubari kita.

“Tak akan ada yang bisa merubah nasib kita tanpa kita mengubahnya sendiri. Tak ada cita-cita besar yang berhasil dengan  “kundu”  kecil”

Karena memang sudah hukum alam, atau memang digariskan oleh Allah SWT bahwa sesuatu yang besar harus ditopang dan dijalankan dengan energi dan jiwa yang besar. Darimana jiwa dan energi yang besar itu dilahirkan…??  Jawabnya ada di dalam dada kita, dalam fikiran kita, dan hal itu harus ditopang dengan jiwa yang berani meraih resiko yang terbesar sekalipun. Baca lebih lanjut

Beasiswa Rp 800 Miliar Bagi 20.000 Mahasiswa 2010 [Form. Pendaftaran]

Tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan pengajaran. Hak setiap warga Negara tersebut telah dicantumkan dalam Pasal 31 (1) Undang-Undang Dasar 1945. Berdasarkan pasal tersebut, maka Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi, dan masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan. Untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu diperlukan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu bagi setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu membiayai pendidikannya, dan berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.

Realitas menunjukkan bahwa banyak lulusan SMA/SMK/MA/ sederajat yang berprestasi dan merupakan calon mahasiswa yang potensial tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi karena berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu peningkatan akses informasi terhadap sumber pendanaan masih sangat terbatas. Upaya yang dapat dilakukan antara lain  dengan menyusun database siswa jenjang pendidikan menengah yang cerdas dan kurang mampu serta memfasilitasi dan  atau menyediakan beasiswa dan biaya pendidikan.

Nilai Beasiswa : Rp 10 juta per tahun
Jangka Waktu : 8 semester untuk program S1/D IV dan 6 semester untuk D III

INI KESEMPATAN KITE…..!!! MANFAATKANLAH…WAHAI ADIK-ADIK,

PONAKAN, DAN SEDAKDE JEME SEMENDE…!!!! Baca lebih lanjut