SAPOET BENTE RIWAYATMOE KINI

Tahun 1980 an.  Syahdan terdengarlah satu kisah yang berasal dari satu daerah yang sangaaat jauh, badahnye di bawah bukit ijang, udaranya dingin menusuk tulang, maka masyarakat daerah itu punya kerajinan yang tidak dimiliki oleh daerah lain DI Indonesia bahkan di Dunia, nama kerajinan itu adalah mbuat SAPUT BENTE. Sebenarnya tidaklah terlalu sulit membuat saput bente. Dalamnya adalah karung Goni (kalau mau Tebal) lalu di tambal dengan berbagai  cepiran kain atau bekas potongan-potongan  kain. Jarum untuk menjahitnya pun harus spesial namanya adalah JAGHUM BENTE. Cukup besar untuk ukuran sebuah jarum.

Tebal tipis ukuran saput bente tergantung selera pemakai, ada yang sedang-sedang saja, ada yang super, artinya ketika seseorang tidur dia tidak dapat begerak lagi saking beratnya  saput bente made in sendiri tadi. Karena saput bente ini tidak diproduksi untuk ekspor jadi ukuran, corak dan warnanya tidak ditentukan, dan satu lagi keuntungan dari saput bente ini kita bisa memelihara KEPINDING (You Know kepinding?) Jenis binatang kecil beraroma cukup WAH untuk membuat kepala puyeng-puyeng jika mencium aromanya, kalau kita sedang tidur  berselimut bente tadi binatang ini suka menggelitik-gelitik bagian tubuh kita, akibatnya tubuh kita benjol-benjol dan merah-merah pada keesokan harinya. Habitat binatang ini adalah lipatan-lipatan yang terdapat  pada saput bente tadi, semakin banyak lipatan-lipatan biasanya semakin banyak  apik jurai kepinding dalam Saput Bente tersebut.

Tahun 2010,  Syahdan terdengarlah kabar “gembira” dari negeri yang jauh dibawah bukit ijang itu..Bahwa kini bukit sudah tidak ijang lagi, sudah berwarna warni, tukak disana gundul disini, masyarakatnya sudah melupakan kepinding penghias bente, besar kecil, tue mude, jande rande, sudah keranjingan dengan teknologi, ke sawah dan ke kebun, besiang atau njawat  sudah mengantongi tuyul (istilah jeme negeri bawah bukit untuk menyebut Hand Phone)  kadang lupa kerja karena sibuk bermain PISSBUUK. Tak ada lagi kerajinan mbuat bente, kepindingpun telah hengkang tersengat aliran listrik bertenaga panas bumi (Geothermal di Tanjung Laut dan Rantau Dedap) Penduduknya sudah semakin pintar, ada yang benar-benar pintar, ada yang pintar mbohongi rakyat, ada LSM yang cari lokak, karena mereka memplesetkan LSM dengan Lokak Senang Maju, Lokak Susah Mundur, ada yang semakin pintar musiman alias ngijon alias lintah darat  alias memeras orang ketika paceklik datang seperti sekarang. Dan ada-ada saja….

Negeri bawah bukit itu kini telah memulai peradaban baru. Baru untuk ukuran keduniaan, berbagai fasilitas masuk tak terbendung yang membuat anak-anak dan generasi muda malas ke langgar dan belajar mengaji..Oleh pemerintah didirikanlah puluhan sekolah-sekolah negeri tanpa diimbangi dengan pendirian madrsah dan sekolah-sekolah agama alasannya juge klise lain departemen,   dan tidak mustahil, tahun 2020 nanti. Tak terdengar lagi anak-anak dan orang muda yang bisa mengaji.

Negeri bawah bukit yang dulu tertinggal secara peradaban dunia namun terdepan dalam urusan agama akan terbalik, dahulu ketika masih terdapat banyak ulama dan fatwa mereka masih didengar karena bersesuaian dengan adat bisa jadi juga akan menjadi kebalikannya. Dahulu ketika ada yang hamil sebelum menikah menjadi aib dan nista tidak harus menunggu 2020 sekarang sudah menjadi lumrah. Dahulu…dahulu..dan dahuluu.. Maka orang muda akan bilang itu dulu, sekarang zaman sudah  maju..
Salam dari negeri bawah bukit

Oleh: Bapang Abigael

bapangabigael@yahoo.co.id

Referensi Ilustrasi: 1,2

Iklan